( ・ω・)/ nyalo~
🐱 Nyankochi desu!
Ada penemuan fakta luar biasa dari hasil eksperimen kemampuan Makoto. Beratnya mata waktu menyusun postingan ini.
Chapter 4: Itulah apa yang aku dambakan
“Kalau begitu, silakan mencobanya” (Ema)
Seperti yang Ema bilang aku mulai melafalkan mantra.
Bahasa yang digunakan untuk mantra ini berbeda dengan yang biasa digunakan Orc tapi bagiku itu terdengar seperti kalimat biasa. Lebih seperti, kalau aku ingin menggunakannya, aku merasa seperti kalimatnya mengalir secara alami saja. Melalui sensasinya, aku tersadar kalau aku sendirilah yang mengucapkannya.
Sepertinya mantra adalah sesuatu yang spesial, jadi tidak peduli apapun alasannya bahasa mantra tidak akan menjadi bahasa keseharian, aku ingin menunjukkannya kalau aku bisa tapi aku menahan diri.
Mereka bilang rasanya seperti mengakumulasikan semua kekuatan dalam dirimu tapi aku memilih untuk tidak melakukannya.
Peningkatan fisik dan kekuatan magic yang diajarkan Tsuki-sama padaku, kalau aku serius menggunakannya mungkin akan menjadi situasi yang sangat bermasalah.
Apa yang akan aku gunakan sekarang adalah magic peluru api, brid. Tidak harus selalu api, kelihatannya magic yang sama dari elemen lain juga disebut brid. Sebuah serangan magic tingkat dasar atau sejenisnya, katanya padaku.
Sebuah magic tingkat rendah yang bisa digunakan untuk menyalakan api tapi meskipun luas tempat ini masih tetap goa.
Kalau itu menjadi api yang besar kamu bisa mati dikarenakan kehabisan oksigen atau dari panasnya. Aku tidak memahami struktur magicnya jadi aku merasa tidak ingin melakukannya.
Aku tadinya separuh yakin kalau itu bisa keluar atau tidak, tapi kata mereka kamu perlu mencobanya agar tahu, jadi...
“Brid!”
Dalam satu detik.
Dari sekelilingku ada sesuatu yang sulit dijelaskan, suatu 'sensasi' terasa mengalir keluar dari tubuhku.
Di depan tangan kananku yang terjulur, sebuah api yang terlihat seperti sebuah katun terbakar pun muncul.
Api itu berhenti disitu untuk sejenak dan kemudian sambil bergetar akhirnya menghilang.
“Ooooh~! Apa ini magic?!” (Makoto)
Suaraku mulai bersemangat.
“Ya, itu kondisi awal ketika kau mengaktifkan brid. Tidak terduga kau bisa mengaktifkannya langsung di percobaan pertama” (Ema)
Ema yang tadinya membimbingku, sekarang terpana dan memujiku. Bagian terpenting dari itu mungkin karena aku bisa mengerti bahasa mantra(setelah ini disebut aria).
Jadi begitu~ Ini yang mereka sebut magic itu~♫
Bagi seseorang untuk dapat melakukan itu dia perlu mencobanya, atau setidaknya itulah apa yang disampaikan oleh seseorang padaku ketika aku menjulurkan tanganku. Dengan ini, hal itu terbukti.
Akhirnya datang juga hari dimana aku bisa menggunakan magic!
Dalam game itu hal standar tapi sampai bisa jadi kenyataan~
Ufuuuu, ufufufufufu
Aku mulai tertawa secara spontan.
“Bayangkan api itu seperti sebuah bola yang jelas dan gambarkan itu menabrak objek yang kau tuju untuk menembakkannya. Itulah langkah penyelesaian kondisi dari brid” (Ema)
Suara instruksi Ema mendinginkanku dari perasaan menggebu.
Jadi begitu, kalau kau bicara soal bola api, selayaknya sudah jelas kamu perlu melemparnya. Untuk membentuk apimu seperti bola dengan membayangkannya...apa itu berarti brid adalah cara memanggil api?
Baiklah untuk sekarang mari kita kesampingkan dulu.
“Begitu~terus terus” (Makoto)
Dengan suasana hati ceria aku mengucapkan aria (mantra) pendek untuk brid.
Ada sesuatu yang mengalir keluar. Ini sepertinya maryoku (magic power). Yang pasti, sekarang aku memahami dengan jelas kenapa Ema bilang ketimbang mencoba memahaminya saja, mencobanya langsung akan lebih cepat.
Bahkan dengan penjelasan pun aku bingung. Sekarang aku agak memahami maryoku yang seharusnya beredar di seluruh dunia ini.
Api muncul sekali lagi.
Dengan mengontrol ini.
Aku membentuknya menjadi bola dan. . .
Api itu, tanpa menghilang, menjadi kerlap-kerlip. Waktu aku membayangkannya seukuran bola baseball, kerlip api menjadi semakin kuat dan dengan lembut mulai berbentuk bola.
“Menakjubkan, bisa melakukannya sampai sini hanya berdasarkan perkataanku” (Ema)
Kejutan yang Ema berikan juga menyenangkan.
Lalu dia bertukar pandangan dengan para Orc lainnya dalam goa dan mereka semua berkumpul pada satu sisi dinding. Para Orc sangat besar dan kelihatannya mereka ras yang unggul dalam kekuatan fisik.
Jaraknya 5-6m.
Gadis itu melihatku dan mengangguk jadi aku pun mengarahkan bola api ke sebuah batu.
Kemudian dengan kuat membayangkan ‘menembak bagian tengah’, aku memerintahkan api itu untuk terbang meluncur. (TL: ‘Nakateru’ itu istilah dalam memanah)
Bola itu terlempar dengan kecepatan lemparan manusia, meluncur lurus dan kemudian membentur.
Di dalam goa, muncullah gelombang kejutan dan angin panas. Baiklah, sebenarnya tidak separah itu. Menyebutnya angin panas terlalu berlebihan. Itu lebih seperti angin hangat.
Batu tadi berserakan dan tidak berbentuk lagi. Kelihatannya api itu memiliki cukup kekuatan. Yang melegakanku adalah bahwa itu bukan sekedar mantra kosong.
“Dengan begini berarti aku sudah mempelajari brid kan? Ema” (Makoto)
“I-Itu benar” (Ema)
Cara bicaranya kembali gemetaran. Sepertinya aku telah melakukan sesuatu yang sangat hebat.
“Aku tadinya hanya berpikir untuk mengajarimu membuat sebuah cahaya sederhana dan kemudian latihan imajinasi mantra atau sejenisnya tapi...” (Ema)
Tampaknya aku melewati lumayan banyak langkah-langkah. Kalau begitu artinya aku sudah bisa menggunakan magicku sebagai cahaya?!
Oh? Magic menyenangkan. Sepertinya ini akan menyenangkan.
Sebuah subjek yang aku sukai bertambah satu lagi.
Terlebih lagi, mungkin karena aku sedang mempelajarinya tapi, ini menyenangkan~♫
“Oh? Ajari aku ajari aku. Aku tidak keberatan kalau kau hanya memberitahuku mantranya saja. Ajari aku lebih banyak lagi” (Makoto)
Aku sedang riang gembira sekarang.
“Ah, iya. Kalau begitu, aku akan membuat semuanya jadi satu nanti. Bicara hal lain Makoto-sama, apakah persepsi maryoku-mu sekarang baik-baik saja?” (Ema)
“Ah, Aku bisa sedikit merasakannya. Itu adalah sesuatu yang mengalir keluar saat kita menggunakan magic, ya kan?” (Makoto)
“E~ benar sekali. Sesuai dugaan, kemampuan belajarmu ada di level jenius” (Ema)
“Yah, aku adalah tipe yang mengerti ketika aku membayangkannya dalam kepalaku tapi itu seperti yang Ema bilang tadi, aku paham bahwa akan lebih baik kalau langsung mencobanya terlebih dahulu” (Makoto)
Itu memang benar begitu. Benar sekali, Ema bisa jadi sensei yang baik.
“Kalau begitu bisakah kau merasakan kalau itu juga ada dalam tubuhmu?” (Ema)
“N?” (Makoto)
Aku mencoba berkonsentrasi setelah dia memberitahuku.
Seperti biasa, cara menggunakan kekuatan yang Tsuki-sama berikan padaku masih tetap menjadi misteri seutuhnya.
Tapi dengan pasti...
Mungkin itu karena efek dari menggunakan magic, aku bisa merasakan ada kekuatan yang berbeda mengalir dalam tubuhku.
Tercium seperti apapun yang ada disekitar.
Inilah maryoku milikku.
Itu perasaan yang sangat ambigu. Rasanya seperti mencelupkan badan ke air dan basah kuyup.
Kalau itu terjadi di seluruh tubuhku, aku pun tidak tahu.
“Ya, ada. Jadi ini maryoku milikku” (Makoto)
“Memiliki kekuatan fisik sebesar itu dan mampu menguasai magic dengan mudah. Makoto-sama mungkin cocok dengan job(profesi) magic swordsman(pendekar pedang sihir)” (Ema)
“Job?” (Makoto) (TL: saya pakai job saja ketimbang profesi karena familiar dengan istilah game)
Hey hey, dunia ini lebih seperti game daripada yang aku kira. Apa pindah job atau kemampuan unik juga ada?
“Eh~ kalau begitu pasti levelmu cukup tinggi” (Ema)
Level katanya.
Hah?
Dengan begini aku rasa aku harus mengubah cara pandangku terhadap dunia ini.
Bukankah ini seperti RPG? Kalau begitu ‘Liz’ yang itu pasti telah memberiku exp. Meski tidak terlihat dia menjatuhkan gold sih. (TL: gold maksudnya koin emas)
“Uhm...entahlah? Aku sendiri tidak tahu” (Makoto)
Selama perjalanan kemari aku sudah mengenalkan diriku ke Ema dan telah menjelaskan tentang situasi ekonomiku dan hal-hal lainnya.
Sejujurnya, aku banyak berkata bohong tentang diriku.
Kalau aku beritahu dia yang sebenarnya, Ema pasti akan berpikir aku seorang manusia menyedihkan dengan masalah otak.
Saat aku terbangun aku sudah ada di sini.
Dan untuk alasan tertentu ingatanku terasa samar. Baik, itu memang benar kalau aku tidak punya memori tentang dunia ini, jadi bukan berupa kebohongan yang berlebihan kan.
Aku merasa bersalah karena menipu seorang Orc yang baik tapi tidak terpikir itu akan membantuku di saat seperti ini.
“Kalau hanya sekedar level kami mungkin bisa mengetahuinya” (Ema)
Dia mengeluarkan secarik kertas.
“Apa ini?” (Makoto)
“Ini kertas yang bisa memberitahu kekuatan dari seseorang. Yah, entah kenapa bisa begitu. Seorang hyuman menjatuhkannya beberapa waktu lalu” (Ema)
Hyuman, Eh, bukannya itu manusia?!
Tapi menurut Ema, itu bukan human tapi hyuman yang ada di sini. (TL: ras manusia di dunia ini disebut hyuman, sedang ras manusia dari bumi disebut human)
“Eh~ apa yang harus kita lakukan dengan ini?” (Makoto)
Baik, untuk sekarang itu tidaklah penting. Mari ukur dulu levelku.
“Silakan digenggam” (Ema)
“Hoi” (Makoto)
Aku menggenggamnya seperti yang dia bilang. Tadinya itu berwarna putih tapi setelah aku pegang berubah menjadi biru. Sebuah biru muda lebih tepatnya.
“Ara, masa’ sih tidak mungkin seperti ini” (Ema)
Ema jadi penasaran karenanya. Apa itu warna yang aneh?
Semua orang yang Ema beri tahu tentang diriku yang telah mengalahkan Liz ada di sini dan memiliki ekspresi kebingungan juga.
“Apa? Apa itu warna yang aneh?” (Makoto)
“Ummm…” (Ema)
“Umu, beri tahu aku” (Makoto)
Aku siap. Soalnya ini hanya memberitahuku tentang nomor. Bukan berarti itu akan mengubah segalanya~
“Level 1” (Ema)
Uuuuh…
Benar~ aku harus bertanya tentang hyuman~♫
═════════════════════════════════════════════════════════
Catatan Author:
Dengan kekuatan dari dewi, makoto-kun bisa memahami arti kalimat mantra.
Kata-kata yang seharusnya terdengar seperti ‘asdklafjhgs’ baginya menjadi terdengar seperti ‘Lahirlah cahaya’ dan bisa mengaktifkannya.
Itu adalah efek yang bahkan dewi pun tidak tahu akan seperti itu dampaknya.





0 komentar:
Posting Komentar
Apa kata hatimu nya~?