• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Kamis, 14 September 2017

Tsuki Chapter 3: Pertemuan dengan penduduk desa yang pertama, -tidak-, ini tidak termasuk hitungan

18:06 // by Nyankochi // , , , // No comments

( ・ω・)/  nyalo~ 
🐱 Nyankochi desu! 

Note: ini chapter perdana yang panjang gak ketulungan 😓 bikin saya respek lebih sama translator. ’Se-bete ini lho nranslate itu ternyata’, ampun nya~. 
Yah, tapi yang bikin semangat itu karena panjang itu berarti makin enak dibaca.  Iya, enak tinggal bacanya, terkantuk-kantuk pas nranslatenya 

Tapi yang ini mulai seru, pertemuan dengan makhluk pertama dunia lain 
Ada bagian dimana MC berpikir tentang analogi game dari sudut pandang seorang hardcore, susah dipahami memang bagi yang tidak terbiasa dengan game, jadi mohon dimaklumi. Perasaan sih cuma chapter ini yang keterlaluan. (Semoga 😓) 
---------------------------------------------------------------------------------




Chapter 3: Pertemuan dengan penduduk desa yang pertama, -tidak-, ini tidak termasuk hitungan





“Selamatkan aku!!”

Aku mendengar suara dengan jelas. Di suatu tempat dekat dengan bukit batu itu.

“Ya dengan senang hati!!!!” (Makoto)

Dengan jawaban bahagia aku berlari. Tensiku sudah kelewat batas sedari tadi! Aku merasa aku bisa menggunakan skill ultimate(skill terhebat) bergiliran.

Aku melihatnya, sangat jelas. Aku benar-benar punya penglihatan hebat. Aku sama sekali tidak butuh kaca mata. Aku sudah mengeluarkannya sih, meski hanya untuk penampilan!

Yang kulihat memang menakutkanku tapi tidak akan kuhentikan langkahku.

Ada dua makhluk di sana, satu seperti babi dan yang lain berupa anjing dengan 2 kepala. Yah sudahlah, jauh lebih baik ketimbang tidak ada apapun.

Di dalam game ada babi yang bisa terbang di langit dan juga anjing neraka berkepala 3.

Hanya karena mereka sekarang ada di dunia nyata, saat ini aku tidak peduli sama sekali! Aku ini seorang manusia super, ada masalah dengan itu?!

Saat berlari, aku lihat yang meminta tolong untuk diselamatkan adalah si babi. Apa itu yang disebut dengan orc?

Yang menyerang adalah anjing berkepala 2. Apa ini pertarungan antar mamono(monster)

Siapa pihak yang akan kubela sudah jelas. Dialah yang berteriak! Terima kasih, berkatmulah akhirnya aku bisa bertemu makhluk hidup!

Sisi sana kelihatannya sudah menyadari kehadiranku. Mereka berdua menjadi berhati-hati dengan orang yang menerabas kabut debu (aku).

Aku berterima kasih. Dengan ini si orc-kun (mungkin) akan selamat. Itu pun kalau aku bisa mengalahkan si anjing.

“Apa-apaan kau, brengsek! Apa kau mencoba menghalangiku?!” (Anjing berkepala 2)

Si anjing berkepala 2 menggonggong. Dengan alasan tertentu aku bisa mengerti maksud dari gonggongannya. Aku juga sangat terkejut kalau aku bisa memahami perkataan orc. Tidak ada masalah! Tidak kupedulikan!

Meskipun rasanya aneh untuk mendengar gonggongan bersamaan dengan kalimat.

“Hai! Aku seorang human(manusia), Makoto!! Salam kenal!”

Dia masuk jarak serangku.

Merasa aman dengan itu aku menggunakan momentum lariku dan menerjang, menghadapi si anjing aku mengarahkan tendangan terbang ke arahnya.

“Deryaaaaa!!!” (Makoto)

Itu adalah serangan yang menggunakan momentumku untuk mendapatkan inisiatif dan membuka jarak.

“Wa, cepat sekali!!” (Anjing)

Itulah kalimat terakhir si anjing.

Di tengah-tengah antara dua kepala, tendanganku mengenainya.

Itu semua oke sampai sini tapi...

Hanya seperti itu saja, aku menerabas anjing itu. (TL: disobek-sobek, lol)

Haii~?

Musuhku seekor mamono kan? Bukan, bukan mamono permasalahannya. Meski aku berlari dengan segenap kekuatan, sebuah serangan menggunakan seluruh momentum...

Tidak peduli seberapa kuat itu, bukannya ini terlalu aneh?!

“E, Ehmmmm” (Makoto)

Dalam hati aku panik tapi aku berhasil mendarat.

Dengan canggung aku membalikkan badan.

“Ah, yah, terlanjur” (Makoto)

Itu tadi jauh dari perkiraan. Bagian atas badan si anjing berkepala dua terpencar kemana-mana, sementara bagian bawahnya tergeletak di tanah. Itu berada di level dimana kamu tidak akan tahu apa yang telah dilakukan dunia ini padanya.

Maaf, maaf, maaf.

Tidak terpikir hal seperti ini akan terjadi, aku bahkan tidak mampu membayangkannya. Ini nyata lho?

Terlihat seperti sebuah truk melindasnya. (TL: truck-sama!!! :v)

Kupalingkan mataku.

Akulah yang melakukannya tapi aku tidak tahan melihatnya.

Mataku bertemu pandang dengan orc-kun.

Dibandingkan saat dengan si anjing aku bisa melihat matanya yang memiliki lebih banyak rasa takut di dalamnya.

Anehnya, dengan penampilannya yang seharusnya terasa jelek, aku tidak merasa jijik, pasti karena serangga itu, maksudku Dewi. Tidak akan ada pengalaman lebih tepat agar jangan menilai berdasar penampilan saja setelah semua ini. Bilang kalau aku tidak indah, aku tidak berguna..... jangan permainkan diriku.

Dalam banyak artian, memangnya aku ini terlalu parah?

Tapi akhirnya aku bisa berkomunikasi. Aku harus berbicara dengannya.

Ah~ sebuah obrolan. Kegiatan yang indah.

Aku telah melakukan hal yang tidak terelakkan lagi pada anjing itu. Semoga dia istirahat dengan tenang.

Aku hubungkan kedua tanganku dan berdoa untuk kebahagiannya di akhirat. 

Dipertemuan selanjutnya, semoga kami bisa saling berbicara satu sama lain.

Nah, sekarang.

Obrolan kan? Akhirnya aku bisa berbicara dengan seseorang.

Merasakan sensasi antisipasi aneh membuat jantungku berdetak lebih kencang.

Dengan tenang aku melihat ke arah orc sementara aku berdiri di depannya.

“Ah~ salam kenal” (Makoto)

“Hiiii!!! Dia bicaraaaa!” (Orc)








E?

????????

Apa? Apa aku sudah salah sedari awal?!

Tidak, apa kau tahu ini pertemuan pertamaku selama tiga hari ini? Mana mungkin aku akan menyerah. Mustahil.

“Aku bukan orang aneh. Aku ramah dan baik. Apa kau paham perkataanku?” (Makoto)

Si orc-kun(mungkin) menganggukkan kepalanya naik turun tapi kemudian segera menggeleng ke kiri dan ke kanan.

Aku tidak paham apa maksudnya. Apa itu bentuk isyarat yang hanya eksis di dunia ini?

Dia juga berjalan dengan dua kaki jadi menurutku dia lebih mirip dengan manusia.

Tidak, tunggu dulu. Aku melihat babi-san yang tegak berdiri, mungkin karena itu terlihat mirip manusia tanpa sadar aku jadi terlalu memojokkannya.

“Orang yang bisa membunuh “Liz” dengan satu serangan tidakmungkinramahdanbaik!” (Orc)

Oh, aku paham. Aku setuju dengan itu. Itu tadi memang sulit dipercaya. Kupikir juga begitu.

Kelihatannya dia banyak bergumam tapi diluar dugaan ternyata orang yang berpikir jernih. Dia bilang kalau “Itu...melakukan hal seperti itu” atau yang sejenisnya..

“Oke, jadi begini. Aku kuat. Jauh lebih kuat darimu!” (Makoto)

“Hiiii!!!” (Orc)

Si babi jadi ketakutan dan meringkuk.

Pemandangan apa ini? Tadi bilang ‘dia bicara?!’ dan sekarang jadi ketakutan.

Untuk menenangkannya aku mencoba banyak isyarat tubuh.

Ooh, ini tidak nyata.

Yah, dalam situasi seperti ini biasanya kita akan bertemu kalimat ‘aku tertarik denganmu’ atau sesuatu seperti itu, tapi mungkin aku kebanyakan bermain game. (TL: biasanya dalam novel atau game, ras beast tertarik dengan orang yang kuat)

Jadi begitu, itu sesuatu yang hanya bekerja tepat pada tipe ras beast. Sesuatu yang lebih tepat bagi yang berjenis anjing. Memangnya babi bukan binatang buas?

Yang mirip dengan itu mungkin goblin ya. Apa mungkin dia perempuan? Tapi aku pikir Oni* akan cocok juga dengan image-nya. (TL: (Oni- demon, tapi lebih ke ogre sih)

Aku masih memikirkan diriku yang terlalu banyak bermain game, tapi aku masih mencari informasi terkait itu pasti karena eksistensi yang seharusnya muncul di game, mamono, ada dihadapanku.

“Begini, cobalah tenang. Memang benar aku kuat, tapi itu juga benar kalau aku datang untuk menolongmu, kau tahu?” (Makoto)

Aku berusaha menunjukkan fakta bahwa aku tidak berbahaya dengan mengangkat kedua tanganku ke atas.

Yeah, ketimbang bilang ‘aku lebih kuat darimu’ akan lebih baik untuk menunjukkan kalau aku datang kemari bukan untuk melukainya.

Lagipula, intimidasi bukan bagian dari karakterku.

“Kaulah yang menangis ‘selamatkan aku~!” Jadi aku datang dan menyelamatkanmu. Aku temanmu oke?”

Si Orc-kun(mungkin) mengangkat kepalanya dan menghadap ke arahku. Terlihat gemetarannya sedikit mereda.

Bagus bagus, sepertinya aku sudah mendapat prasangka baik. Atas semua kejadian ini...

“Y-yang benar?” (Orc)

Dia memandangku dan melihat mataku masih dalam ketakutan, aku pun mengangguk padanya.

Rasa waspada pada ekspresinya pun mereda lalu berlanjut merasakan ketakutan lagi.

“Heh, kamu ini kenapa sih?!” (TL: Nande ya nen?!)

Di tempat tanpa orang lain aku melakukan tsukkomi. (TL: tsukkomi maksudnya respon/koreksi yang dilakukan spontan, biasanya jadi bahan komedian jepang)

Ini buruk. Masa sih sekedar komunikasi saja bisa sesulit ini.

Aku tidak punya uang atau apapun di tangan jadi tidak ada yang bisa kutawarkan.

A-akankah ini berakhir dengan kegagalan? Tidak mungkin, aku tidak boleh menyerah!

“K-kenapa seorang hyumanbisabicaradenganku??! Jangan-jangan, kamuhyumanyangmemilikitamer?!”(Orc) (TL:maklumi dia ketakutan jadi bicaranya gelagapan)

Tamer(penjinak)?

Apa itu?

Kalau kau bertanya kenapa aku bisa bicara dengannya, ya itu karena seekor serangga seperti dewi.

Jadi begitu, seorang manusia normal, -tidak-, bahkan meski itu normal adalah mustahil bagi manusia untuk bicara dengan mamono~

Kemampuan apa yang telah kau berikan padaku ini! Tentu saja orang akan salah paham denganku gegara ini!

“Ah, ya ampun!! Aku, tamer? Salah! Aku tersesat! Aku menyelamatkanmu! Selesai!” (Makoto)

Sekarang mari kita bicara langsung.

Akan kusampaikan padanya hal yang jelas saja.

“??”

Mu, dia sedang berpikir. Dia gemetaran tapi lebih baik ketimbang sebelumnya. Aku sudah menjaga jarak antara kita jadi aku lebih senang kalau kau berhenti melakukan itu.

Terlebih lagi, aku juga sangat ketakutan, tahu?

Di situasi dimana aku menghadapi babi berdiri dengan dua kaki, untuk bisa saling mengerti benar-benar menyentuhku.

Berputar-putar di tempat ini selama 3 hari bukanlah sia-sia.

“??”

Aku menunggu dalam diam. Bagaimana reaksinya yang di sana? Kehadiran obrolannya sekarang nihil.

“A-aku mengerti” (Orc)

YES!

Aku berhasil! Thanks! Arigatou! ShieShie!

“Terimakasihtelahmenyelamatkanku” (Orc)

Gureito(great,lol), inilah obrolan yang mirip obrolan. Dan terlebih lagi, dengan niat yang baik. Inilah sesuatu yang membuat kita senang.

“Gpp, aku senang kau baik-baik saja. Oh ya, apa desamu dekat sini?” (Makoto)

Aku akan mengubah cara panggilku jadi ‘kimi'(kamu). Memanggil dengan ‘omae omae’  itu rasanya agak tidak sopan kira-kira menurutku sih seperti itu. (TL: omae= kamu, tapi sekelas ‘elo’ gitu)

Mau itu desa, kota, atau cuma sekedar rumah.

Apa saja tidak masalah, aku hanya ingin tidur di tempat beratap.

Tapi yang menyedihkan dia gerakkan kepalanya horizontal.

“J-jangan-jangan kau juga tersesat?” (makoto)

Sekali lagi dia geleng-geleng tanpa menjawab.

“Aku...asal kau tahu ya, sudah tersesat selama 3 hari ini. Apa kau tahu dimana aku bisa menemukan orang sekitaran sini?” (Makoto)

Lagi-lagi dia menggeleng.

Ya Tuhan! Apa iya situasiku ini belum berubah? Ini kan namanya event sih? Ya kan?!

“Tidak ada desa hyuman di sini. Sebutan tempat ini adalah ‘ujung dunia’, sebuah gurun datar hampa” (Orc)

Ujung dunia? Itu...aku pikir aku pernah dengar itu tidak lama ini.

... Hei!

Serangga itu, Masa iya dia benar-benar melemparku ke ujung dunia?!

Jadi itu bukan cuma sekedar cara bicara? Apa biasanya kau memang setega ini?!

Aku merasakan ada kedengkian. Kedengkian yang penuh dengan kebencian.

Sejujurnya, pasti kau akan meragukan perlakuan yang berlebihan seperti ini.

Eh?

Bisa jadi tempat ini disebut sebagai ujung dunia tapi mungkin saja ada kota besar yang bisa terlihat? Terlalu naiiiiiiffff!!!! Lebih naif* ketimbang Tsuki-sama. (TL: naif di jepang disebut amai yang artinya juga manis. Jadi maksudnya ‘terlalu amai(naif), lebih amai(manis) daripada Tsuki-sama, permainan kata gaya bahasa Jepang, bingung? ok lewatkan)

Tidak mungkin, ini pasti tidak mungkin.

Sekarang aku mengerti kepribadian serangga itu. Dia tidak mau mengakui apapun itu yang tidak terlihat cantik. Yang paling utama adalah penampilan mesti oke. Untuk bisa disukai oleh serangga pembenci pria itu, untuk memberikan mereka kekuatan dan berkah m-mereka pasti s-sangat cantik, ya kan?!

“Aku dalam perjalanan menuju dewa gunung Shen-sama untuk mengorbankan diriku” (Orc)

Disaat aku sibuk dengan kebencianku terhadap dewi yang belum pernah kulihat wujud utuhnya itu, dia melanjutkan perkataannya.

Yaaay sebuah event flag~ (TL: event flag itu pemicu poin peristiwa dalam skenario cerita di game, biasanya di game berhubungan dengan tahapan mendapatkan karakter cewek, dan si Makoto sedang menggila moodnya)

Aku bahkan belum sampai ke sebuah desa atau kota dan aku sudah bertemu dengan sebuah event berbau pertarungan dengan mid-boss~ (bos musuh)

Aku bisa mimisan~

Ketika air mata mengalir dari matanya, dia memberitahuku realita hidupnya yang mengejutkan.

Mendengarkannya aku jadi paham kalau dia seorang highland(dataran tinggi) orc yang tinggal di dataran tinggi, sepertinya itu suku orc level tinggi.

Meskipun dari penampilannya tidak terlihat seperti itu.

Sekali setiap setengah tahun, pemilik gunung yang dipanggil dewa gunung meminta seorang gadis muda untuk ditumbalkan.

Kalau mereka tidak mau, kabut tebal akan menutupi desa dan tanaman pertanian tidak akan tumbuh dengan baik.

Itu kan highland orc yang luar biasa. Tidak menjarah tapi malah berburu dan bercocok tanam. Kalian punya kehidupan yang layak.

Secara praktis mereka manusia. Di luar dari penampilannya.

Ngomong-ngomong.

Entah kenapa aku merasa sepertinya flags(bendera tanda) mulai bermunculan satu persatu.

Dari sekian banyak pernyataan dan penjelasan dari situasi ini, kau harusnya sudah tahu jenis flag seperti apa ini seharusnya kan?

Flag pertarungan? Bukan bukan, agak berbeda.

Secercah optimisme? Atau mungkin sebuah racun manis bernama harapan?
Okay. Mari susun faktanya.
  • Aku dibuang ke dunia lain.
  • Aku mengikuti teriakan dan menolong gadis (orc) dari seekor mamono.
  • Kemudian, gadis pertama yang kutemui di dunia ini memberitahuku kalau dia akan menjadi tumbal. (masih belum terjadi)
Sudah paham sekarang? 

Ini he.ro.ine flaaaaaag!!!!??!”?!”?!? (Karena omongannya mengerikan jadi kami putuskan untuk tidak menggambarkan reaksi dari karakter utama kami)

Dan sekarang coba saja lakukan sesuatu!

Pasti nanti flagnya terpicu untuk berdiri! 

(TL: bayangkan saat main game RPG/galge, kita mengikuti rute cerita dari awal lalu bertemu flag event, maka aksi yg dipilih menentukan rute cerita dan ending. Misal: memilih aksi untuk membunuh karakter A, nanti bisa membuka event untuk dapat cewek B di akhir cerita. Kalo dibiarkan hidup si A tadi, nanti dapatnya cewek C, atau bisa jadi nanti mati dan bertemu bad ending. Banyak rute cerita yang bisa dipilih dengan ending berbeda-beda, cabangnya dipisahkan flag event ini sebagai pemicu setiap rute. Gitu lho 😯)

Mustahil, sudah pasti mustahil. Tentu saja, aku bukan tipe yang menilai wanita berdasarkan penampilannya. Dia wanita nomal. Kesannya juga biasa saja.

Tapi, tapi kalau aku akan menjalin hubungan dengan seseorang, aku maunya itu  yang berpenampilan seperti manusia!

Apa bukan termasuk kelewatan ini namanya?

Kalau hanya sekedar tentang penampilan, apa kalau begitu seorang orc juga termasuk?

Nononono, itu namanya sofisme. (TL: sofisme: suatu sikap yang berpendapat bahwa kebenaran itu relatif adanya)

Aku juga punya pengalaman layaknya manusia normal. Aku tidak akan fokuskan pikiranku kepada sesuatu seperti prasangka atau prekonsepsi.

Memang dari gadis orc ini aku tidak mencium ada bau busuk apapun. Malahan, aku bisa mencium wangi seperti bunga dari dirinya.

Seperti seorang senpai yang kau kagumi?

Ha!!

B-bukan! Bukan itu maksudnya! Dengar baik-baik, dari ‘pengalaman’ku juga ada dukungan moral yang ‘jelas’ sekali.

Sebuah pesona yang sampai ke titik abnormal, orang dengan tubuh yang berhenti tumbuh saat  awal masa pertumbuhan, gadis yang terlihat seperti elf, ras beast dengan telinga hewan dan armor yang terbuat dari tulang.

Spirits yang punya wujud manusia, ras demon yang berkulit biru atau hitam atau kadang hijau. Tergantung penampilannya bahkan robot pun tidak masalah!
(TL: dia menyebutkan jenis-jenis heroine yg setidaknya berpenampilan cantik/normal seperti manusia. Loli, elf, dwarf, beast, cyborg(lol), dll)

Seorang orc.

Tapi seorang orc itu rasanya mustahil.

Itu diskriminasi katamu?!

Berisik!! Kalau wujud dasarnya tidak seperti manusia aku tidak mau! Untuk satu ini aku tidak mau mengalah! Aku tidak akan mengalah!

Berdasarkan pengalaman bermainku di 'dunia mimpi para lelaki', aku dengan menyesal, sangat menyesal tidak memiliki seorang gadis orc sebagai target penaklukan.

Wa, pengalaman? Itu betul, itu ada dalam game! Memangnya salah?!

Lagipula, kau pasti paham. Untuk menjadikan dia sebagai target penaklukan adalah hal yang tidak akan pernah terjadi!

“Jadi karena itu, aku mohon maaf” (Makoto)

Aku meminta maaf pada gadis ini secepatnya. Hal seperti ini lebih baik untuk segera dilakukan sesegera mungkin.

“E, apa yang kau bicarakan?” (Orc)

Sial. Aku men-campur aduk-kan konflik dalam hatiku dengan obrolanku saat ini.

Ini kesalahan fatal.

“Y-Yaah~ bukan apa-apa kok~” (Makoto)

Gadis ini kebingungan. Tapi itu hanya untuk sejenak, segera setelah itu dia tersenyum lagi (mungkin, aku tidak tahu) kepadaku.

“Jadi kalau tidak ada masalah bagimu, aku ingin membalas jasamu, Makoto-sama” (Orc) 

Wow, tidak terduga dia bisa mengingat namaku setelah kejadian tadi. Yeah, aku akan melupakan bagian saat dia bilang ‘Dia bicara?!’.

Gadis yang sopan dan berprilaku baik. Sungguh disesalkan. 

Lebih dari gadis manusia aku akan lebih suka dia menjadi gadis anjing atau gadis kucing sih~

“Un, aku Makoto. Ngomong-ngomong, umurku 17 tahun. Senang berkenalan denganmu” (Makoto)

“Aku Ema. Umurku juga 17 tahun” (Ema)

Wah umurnya juga cocok! Benar-benar, hanya karena rasnya makanya flag yang ada cuma battle flag. (TL: tidak ada flag romance-nya karena dia tidak menarik hati, lol, kurang ajar ni MC, jujurnya kelewatan)

Ngomong-ngomong, perkataan si serangga yang bilang ‘jangan menikah’ itu tidak terpikirkan sama sekali di kepalaku.

Soalnya Tsuki-sama bilang padaku aku boleh melakukan apapun yang kumau~

“Tepat di depan sana adalah poin terakhir dari tempat ‘Lapangan Penyucian Diri’ untuk sampai ke dewa gunung. Silakan istirahatkan tubuhmu yang sudah lelah karena perjalanan” (Ema)

Apa itu tempat istirahat? Dia benar-benar gadis yang baik.

Rasanya agak murahan tapi ini terlihat seolah dia menjadikanku pengawalnya sampai kami tiba di tempat ‘Lapangan Penyucian Diri’. Yah kalau hanya melakukan hal seperti sebelumnya sih tidak jadi masalah. Kalau hanya sekedar batu jatuh pun aku rasa aku  juga bisa menangkisnya.

“T-terima kasih Ema” (Makoto)

Aku terima ajakannya dan kami mulai berjalan menuju ke arah si Dewa Gunung itu.

Anehnya, semakin sering aku bicara dengannya semakin jelas aku bisa memahami cara bicaranya. (TL: aslinya, Ema bicara acak-acakan, tapi translator permudah biar kalian mudah bacanya 😀 makasihnya manya~)

Serangga itu pasti telah memberiku kemampuan untuk bisa memahami bahasa ras lain semakin sering aku bicara dengan mereka. Seperti mengarah langsung ke pikiran mereka.

Baik, aku tidak punya masalah dengan itu.

Sambil mengobrol dengannya aku melanjutkan perjalananku. Dia memberitahuku bagaimana desanya secara perlahan kehilangan para gadis mudanya. Dia memberitahuku cerita tentang festival yang telah dilakukan desanya saat dalam keadaan damai.

Kalau dua gadis muda pergi setiap tahun sebagai tumbal pastilah perlahan akan habis. Itu kalkulasi sederhana. Bahkan bocah pun tahu itu.

Sejak awal, Ema yang menjadi tumbal sedang menuju tempat kematiannya.

Sampai-sampai cara bicaranya menjadi muram, tentu hal itu tidak mengejutkan. Aku hanya meresponnya dan mengikutinya, tapi aku masih punya beberapa pertanyaan. Akan kupikirkan nanti dengan hati-hati.

Saat aku sampai di poin istirahat terakhir apa yang harus kulakukan.

Kalau aku pergi dan mengalahkan mid-boss, flagnya pasti nanti terpicu kan?

Dia itu gadis yang baik tapi....dia itu gadis yang sangat baik tapi...!!!

Dia punya kepribadian yang baik, umurnya juga sepantaran. Dia juga anak dari kepala desa jadi kelihatannya aku seperti seorang penambang emas.

Muu~ aduh, kenapa kamu bukan manusia biasa, Ema?

Bisa jadi kamu sebenarnya seorang putri cantik yang telah dikutuk. Peradaban manusia terlalu jauh dari sini jadi jelas itu tidak mungkin.

“Ah, itu tempatnya” (Ema)

Ema-san menunjuk ke sebuah goa. Itu memang terlihat seperti dibuat dengan sengaja. Keadaan pintu masuk, termasuk juga jalannya. Jelas sekali ada tanda bekas dikerjakan oleh tangan.

“Um, Makoto-sama. Aku minta maaf tapi bisakah kau tunggu sebentar di sini? Aku harus menjelaskan dulu ke orang-orang yang menjaga tempat ini tentang Makoto-sama” (Ema)

“Aku mengerti” (Makoto)

Itu cukup masuk akal. Kalau aku tiba-tiba masuk dengannya mungkin aku bisa diserang. Aku bisa sedikit mengerti permintaan Ema-san.

Tidak mungkin dia akan membawa sepasukan tentara untuk menyerangku.

Meski itu dia lakukan, karena aku bisa melihat dengan jelas pintu masuknya tentu aku bisa kabur dari sini.

Setelah memastikan Ema menghilang ke dalam goa, aku mulai memikirkan tentang masa depan. Kalau seperti ini terus Ema-san akan mati. Dia tumbal soalnya.

Gadis itu benar-benar orc yang baik. Terlebih dialah yang pertama berbicara denganku.

Mungkin agak sedikit berbeda tapi dia rasanya seperti seorang teman.

Kalau memungkinkan aku ingin bisa menyelamatkannya, tapi flag itu susah. Dan kekuatan musuhku juga tidak kuketahui.

Kalau aku berpikir tentang semua kejadian yang telah terjadi, tidak akan aneh rasanya untuk menghadapi sosok seperti last-boss(musuh terakhir).

Ini sepenuhnya maso-game.

Meskipun ini bukan game tapi realita, jadi jelas sekali kalau ini akan sulit untuk dilakukan.

Kalau saja aku bisa berhasil mendapatkan informasi di goa ini.

Pagi buta aku akan keluar, mengalahkan dewa gunung itu dan hasilnya aku akan menyelamatkan si gadis.

Tidak masalah kalau aku hanya menghilang setelahnya.

Kalau aku janji padanya jika desanya bisa terselamatkan, dia akan bisa kembali ke desa.

Si Bos yang Ema-san panggil sebagai Shen-sama, kalau itu aku mungkin aku bisa berbicara dengannya. Pasti ada cara lain untuk menyelesaikan masalah selain bertarung.

Aku melihat Ema-san yang melambaikan tangannya di pintu masuk goa. Dia tersenyum. Dia pasti berhasil dengan negosiasinya.

Melihat keadaannya aku berpikir untuk sedikit menjadi hero yang tidak perlu aku lakukan menurut Dewi itu.





Tsuki Chapter 2: Aku mengandalkan teriakan

12:39 // by Nyankochi // , , , // No comments

( ・ω・)/  nyalo~ 
🐱 Nyankochi desu! 

Masih belum ada hal kompleks, tapi santailah 😋 dinikmati saja ceritanya~.



Chapter 2: Aku mengandalkan teriakan



Sejauh mata memandang cuma ada gurun dan bukit berbatu.

Berjalan tanpa arah di gurun luas ini dan juga bukit berbatu.

Sebuah skenario yang berlanjut terus menerus.

Ketika aku dulu jatuh, mataku penuh dengan air mata dan aku tidak punya ruang untuk melihat seksama apa yang ada di bawah sana.

Yang benar saja? Situasi begini. Ini sudah hari ketiga lho?

Sekarang ada baiknya kalau ada suatu perubahan.

Sejak saat aku jatuh, aku sudah berjalan lurus tanpa peduli siang dan malam.

Beginilah, tanah datar yang luas. Sebelum aku sadar bahwa aku ada di tempat yang sama, atau semacamnya, agar itu tidak terjadi aku menandai suatu pemandangan dan melanjutkan perjalanan.

Bahkan dengan cara itupun, sesuatu yang sudah biasa aku lihat di depanku, yaitu sebuah gunung yang tinggi mencolok, aku merasa tidak bertambah dekat sama sekali.

Mungkin ini ilusi, dan sering aku merasa hatiku akan hancur.

Soalnya, memang tidak ada siapapun atau apapun di sini.

Rasanya sulit dipercaya. Tidak hanya orang, sampai hewan pun tidak ada lho?

Ah, aku sudah melupakannya.

Tidak ada satupun yang bisa dimakan. Terkadang aku melihat ada rumput kering, sesuai dugaan, kupikir aku tidak akan sanggup memakannya. Tapi menemukan itu saja sudah langka sekali!

Aku yang lapar tapi masih bisa berjalan mungkin karena tubuhku sudah menjadi manusia super. Kalau biasa seperti sebelumnya, harusnya aku sudah kekeringan dan tidak mampu berdiri.

Mencoba melakukan yang Tsuki-sama katakan padaku, aku mencoba menggunakan ‘kemampuan’ yang diberikan padaku, jadi aku berkonsentrasi untuk mengaktifkannya tapi gagal.

Aku mencoba mengumpulkan kekuatan ke dalam telapak tanganku, tapi..

Aku tidak mengerti sama sekali. Aku memang dapat merasakan kekuatan terkumpul tapi tidak ada yang terjadi.

Aku coba meletakkan tanganku di tanah tapi tetap saja percuma.

Aku  juga melakukan banyak tes.

Hanya saja, objek yang kupunya di tangan perlahan bergerak bergantung pada seberapa banyak energi yang kugunakan.

Ini mungkin wujud yang paling mudah dilihat dan dimengerti. Tapi bukan berarti bergerak sungguhan, objek itu hanya bergetar di tanganku.

Itu adalah misteri. Dan juga, menurutku aku tidak akan bisa keluar dari situasi sekarang dengan menggunakan ini.

Yah, kekuatan ini adalah hal berharga yang diberikan Tsuki-sama padaku. Aku percaya kalau orang hebat tidak melakukan kesalahan.

Aku akan mencoba bereksperimen lebih dengan itu, aku harus segera memahami kekuatan ini.

Ngomong-ngomong, rasanya panas.

Saat siang, rasanya sangat panas.

Saat malam, rasanya sangat dingin.

Itulah yang kurasakan.

Saat tengah hari aku bisa melihat jelas aura panas dengan mataku. Ya seperti itulah sekarang ini.

Saat malam permukaan batu mulai membeku.

Kelihatannya ini tempat yang amat sangat keras bagi manusia, ya.

Sekali lagi aku berterima kasih pada tubuh superku.

Yah, tanpa peduli sekelilingku aku terus maju dengan kecepatan penuh.

Disaat aku sampai di gunung itu pasti nanti ada perubahan situasi, mungkin.

Tolonglah, semoga saja. Kumohon.

Yang bisa kudengar itu hanya suara angin dan langkah kakiku saja!

Ini sudah 3 hari!

Di saat seperti ini harusnya sudah mulai ada event(kejadian) kan?!

“Aku mengerti, pasti karena aku bukan hero lagi~ aku hanya bebek jelek soalnya”.

Aku mulai berbicara ke diriku sendiri. Mungkin ini efek kesepian tapi waktu-waktu saat aku mengatakan apa yang kupikirkan sendiri mulai bertambah. Menyedihkan.

Mataku perlahan mulai kosong. Kupandang jauh di sana. Aku ingin percaya kalau ada populasi manusia di ujung sana.

Aku penasaran apalah yang sedang dilakukan dua hero itu sekarang ya?

Mereka pasti disambut dengan tangan terbuka oleh bangsawan dan pihak kerajaan, dan pastinya makan makanan enak.

Dibandingkan aku.

Aku pandang belakangku. Tidak ada apapun kecuali gurun coklat kemerahan. Jalan yang telah kulalui. Setiap saat aku melihat bayangan aku berlari segera jadi harusnya aku banyak memperpendek jarak. Aku sepertinya tidak akan mengenali lagi tempat aku jatuh.

Pertama aku berencana berjalan tanpa berpikir dan bertemu seseorang atau menemukan persinggahan atau sejenisnya, tapi..

Kelihatannya itu hanya keunggulan yang diberikan untuk karakter utama.

Juga, untuk secara sempurna tanpa apapun sama sekali. Tidak ada satu bayangan oran- ???

“?? ???”

Jadi. Suara itu samar tapi..

Kucoba dengan segala kemampuanku untuk berkonsentrasi mengubah diriku, mungkin ini pertama kalinya dalam hidupku aku menjadi sangat sensitif.

Telingaku tidak membiarkan satu pun suara terlewatkan.

Kuhentikan langkahku.

Kugunakan tangan di telinga dan dengan tenang menutup mataku.

Dimana itu, dari mana aku mendengarnya?

Aku harus konsentrasi. Hanya berkonstrasi.

Seolah tidak ingin melewatkan momen setetes air jatuh.

Aku yakin mendengar sebuah suara, aku harus memastikannya.

“? Se… mat…ak”

“Dari sana!!!!!!”

Aku dengar sekali lagi, itu sudah pasti suatu teriakan.

Kubuka mataku. Seperti ingin mendapatkan gelombang suara itu!

Meski aku masih tetap puasa!

Perutku kosong sekali tapi!

Sejak dari kedatanganku, itulah kekuatan penuh yang kumiliki.

Kupijak tanah dan segera mulai berlari.