( ・ω・)/ nyalo~
🐱 Nyankochi desu!
🐱 Nyankochi desu!
Prolog 1 dari Tsuki ga Michibiku Isekai Douchuu.
Prolog 1: Inilah Awal Mula Langit Musim Gugur
Bangun, membuat sarapan, dan sekalian menyiapkan bekal.
Menyelesaikan latihan pagi klubku, mengakhiri kelas, dan menuju klub lagi.
Setelah berkumpul bersama teman-teman di klub aku pun pulang ke rumah.
Kemudian aku mandi dan ganti baju.
Lalu duduk bersama dengan keluargaku dan kemudian istirahat.
Di akhir malam musim gugur aku membaca banyak buku, bermain game, dan browsing.
Tidur.
Itulah semua yang kulakukan.
Mungkin ada sesuatu hal terjadi diantara itu semua, tapi tidak terlalu relevan.
“Maka dari itu, rasanya aneh kalau aku tidak sedang tidur di rumahku sendiri!”
Itu benar. Tidak diragukan lagi.
Meskipun begitu, ‘disinilah’ aku.
Di dalam sebuah ruangan persegi yang terlihat seperti ada bintang-bintang yang tercetak di seluruh ruangan. Aku berkeliling memeriksa lantai dan dinding ruangan.
Aku fokus pada fakta bahwa tidak ada pintu atau jalan keluar sama sekali.
Dan sejak aku di sini, aku tidak merasakan kehadiran siapapun sepanjang waktu.
Saat ini kusenderkan punggungku ke pojok ruangan dan merenung.
“Kau benar-benar tenang, ya?”
“?!”
Sebuah suara. Itu tadi jelas sekali bervolume tinggi tapi tidak ada yang terjadi terhadap ruangan. Dengan seksama kuperhatikan tidak ada perubahan apapun di dalam ruangan.
“Aku menggunakan suara tinggi hanya sekali, kemudian kau berkeliling mencari sekitar ruangan dan mulai mencoba memahami kondisi yang terjadi sekarang, lalu sambil berjaga kau mencoba menyusun pikiranmu ya.”
“Siapa kamu?”
Suara itu berlanjut. Aku hanya paham bahwa itu tadi sebuah suara.
Kelihatannya akan lebih baik untuk memahami dengan bertanya langsung.
“Dewa, kalau itu yang kukatakan, apa kau akan percaya?”
“Tidak mungkin.”
Suara ini, apa dia sedang gila? | (TL:does it have a screw loose? – apa ada bautnya yang kendor/longgar, istilah untuk orang yang sedang sulit dimengerti, semacam [otakmu lagi miring?])
“Sayang sekali, sekarang aku akan membuatmu pergi ke dunia lain yang SANGAT indah. Ngomong-ngomong, ini perjalanan satu arah jadi kau tidak akan bisa kembali ke dunia aslimu.”
“OiOioioioioioioioioioi!!!” (TL: heyheyheyheyhey)
Pikiran bodoh macam apa yang dia bicarakan dengan lancar ini?
“Mengenai hal yang harus kau lakukan nanti, kau bisa bertanya kepada yang berwenang di tempat tujuanmu. Dan dengan itu, aku minta maaf tapi aku butuh tanda persetujuanmu soal ini.”
“Mana mungkinlah aku mau!” Seperti yang diduga, suaraku mulai mengeras.
Sudah pastilah, jelas sekali, siapa yang mau menerima hal ini setelah mendengar tentang itu?!
“Oya, kau tidak mau? Ini diskusi yang aneh, tapi aku dengar seharusnya kau memang akan pergi.”
Suara itu terdengar seperti sedang bermasalah. Bercanda itu ada batasnya. Aku sama sekali belum pernah mendengar ini semua sebelumnya!!!
“Ini bukan bohong, aku belum pernah dengar obrolan tentang itu! Oke? Apalagi, orang tolol macam apa yang mau langsung menerima obrolan tentang dunia lain?! Kita bicara tentang itu saja sudah sama anehnya!” Dengan segenap kemampuan aku coba menjelaskan.
“Fumu, kelihatannya memang bukan kau. Aku melakukan hal buruk, aku mohon maaf.”
“Begini ya...aku senang kamu meminta maaf tapi, apa kamu akan mengembalikanku?!”
Nada suara asliku masih belum kembali. Mungkin mustahil terjadi saat nada death match tapi aku tahu kalau itu bukan nada yang sopan. Itu merupakan salah dari situasi yang sangat parah ini. Bukan salahku. (TL: entah merujuk apa itu death match)
“Tentu saja.” Suara itu bilang begitu.
Aku senang. Itu ‘suara’ yang sanggup memahami. Dalam situasi normal, inilah bagian dimana akan dikatakan ‘aku minta maaf’, ‘mustahil’, atau ‘oh yah, cobalah sebaik mungkin’ dan kemudian melemparmu keluar.
Atau mungkin ini seperti ‘Kamu sebenarnya sudah mati~’, seseorang memberitahumu dan tanpa mendengar komplain, dia melemparmu ke dunia lain. Adalah apa yang aku kira tapi...
Aku selamat~
“Yah aku mohon maaf...Berarti, pasti itu kakak atau adikmu” ( TL: mbak lho)
Aku tarik ucapanku. Orang ini bilang sesuatu yang bukan merupakan candaan.
Dia bilang itu secara acuh tak acuh tapi itu bukan kalimat yang bisa kuabaikan.
“Hei, apa katamu tadi?”
“Hn? Kalau bukan kau yang jadi bagian ini berarti ya salah satu saudaramu.” (TL: sisters – saudaranya perempuan semua)
“Jangan beri aku ‘Hn?’! Kalau kamu melakukan sesuatu ke saudaraku, aku tidak akan bersikap lunak padamu!”
Keduanya bersikap seolah tidak ada hal yang berubah. Bagi mereka, memutuskan untuk menerima situasi seperti ini sebelumnya adalah hal mustahil.
Dan tanpa peduli tentang itu, orang ini baru saja bilang akan mengambil salah satu dari kedua saudaraku. Jangan main-main denganku.
“Tapi kau tahu, kau anak laki-laki tertua dari keluarga Misumi, Misumi Makoto-kun kan?”
Bagaimana dia tau namaku?
“Anak dari keluarga Misumi harusnya sudah mendengar tentang ini, padahal itulah yang aku dengar?”
Suara itu terlihat satu level lebih bermasalah daripada sebelumnya. Aku tadinya sedikit terkejut dengan suara ini. Bahkan ketika dia menculikku entah dari mana, dia masih mencoba menghormati keinginanku.
Kalau begitu...
“Baik, begini saja. Untuk sekarang, bisa kamu beritahu aku namamu?”
Benar juga. Bagaimana pun juga aku berusaha untuk tidak panik tapi bukan berarti aku tenang. Entah mengapa aku hanya 'sekedar' tenang, adalah ungkapan yang lebih baik. Aku harus santai sedikit. Aku masih belum tahu identitas dari suara itu.
“??. Fumu, benar sekali. Aku minta maaf karena tidak memperkenalkan diri. Tsukuyomi adalah panggilanku.”
“jadi begitu, Tsukuyomi. Tsukuyomi... Tsukuyomi?!”
“Oya, apa kau tahu itu? Ternyata kau punya cukup wawasan”
“Satu dari 3 dewa Shinto, Tsukuyomi no Mikoto ‘yang itu’?!”
“Oooh, benar sekali. Dibandingkan dua yang lainnya aku hanya karakter minor kok.”
Yah itu memang benar sih. Tapi meskipun begitu tetap saja itu nama yang besar. Aku suka mitos dan sejarah (meski hanya sedikit), makanya, kalau apa yang suara itu bilang adalah benar, berarti dia karakter penting.
“Bagi Tsukuyomi-sama ‘yang itu’ sampai mengetahui tentangku, kenapa bisa begitu?” (TL: -sama itu gelar tambahan, sebutan bagi pihak yang dihormati/dianggap superior, statusnya lebih tinggi)
Untuk permulaan, ini hal yang setidaknya bisa kumengerti. Aku masih belum mengerti kenapa aku terpilih untuk pergi ke dunia lain.
“... Aku paham, kau benar-benar tidak tahu apapun. Baiklah, aku akan memberitahumu.”
Dan kemudian, isi dari perkataannya, sejujurnya aku tidak bisa mengerti sepenuhnya. Aku dalam posisi yang sangat sial dibandingkan orang yang dipanggil ke dunia lain, tersesat atau reinkarnasi, atau apapun itu menurutku.





Hm...lucu rasanya terbiasa baca translasi inggris jadi ke bahasa sendiri :3 heheh
BalasHapusTapi ini cukup menarik, terlebih lagi bahan ceritanya memang seru dan kompleks untuk diikuti.