( ・ω・)/ nyalo~
🐱 Nyankochi desu!
Prolog 3 dari Tsuki ga Michibiku Isekai Douchuu.
Prolog 3: Dewi = Serangga
“Ini bisa disebut ruangan platinum” (Makoto)
Aku benar-benar terkesima.
Ketika aku kira bahwa aku akan berakhir di sebuah ruangan dengan langit berbintang, kali ini aku datang ke sebuah ruangan putih bercahaya yang tidak nyaman di mata.
“Ara, apa kau sudah tiba?” (Dewi)
Nada bicaranya. Seperti yang biasa dewi gunakan.
“Kekuatan si pria tua Tsukuyomi itu mulai melemah ya. Berada di dunia bar-bar itu, mau bagaimana lagi” (Dewi)
Suara kedua. Seperti Dewi.
“Lagipula, hanya karena kami sudah tidak pernah bertemu lama sekali, untuk melupakan kepribadianku dan memilih kandidat pria, pasti dia sudah mulai pikun! Ahahahahahahah” Suara ketiga.
De..Dewi? mungkin seorang Dewi.
“Padahal ada dua gadis yang sesuai dengan seleraku juga. Harusnya dia pilih salah satu dari itu, duh. Kalau aku tidak punya jaminan, siapa yang tahu apa yang akan terjadi” (Dewi)
Suara keempat. Se-seorang D-De-Dewi?
“Yah, sabar sabar. Sekarang, namamu Misumi kan? Kau dipanggil ke dunia ini karena kontrak yang dibuat antara orang tuamu padaku dulu tapi...” (Dewi)
Suara kelima. Apa iya? Ini lelucon pastinya. Ini seorang dewi? Lelucon konyol.
“Kau tahu, saat aku sedang tidak mengawasi, keseimbangan antar ras telah runtuh. Ras Hyumans dalam masalah besar sekarang. Ras Demon dan ras Spirit melakukan apa saja yang mereka mau, paham?” (Dewi)
Saat kau tidak mengawasi, katamu?
“Jadi, aku ingat tentang kontrak. Dalam sekali tidur...maksudku, sekali kedip ternyata mereka sudah memiliki keturunan, jadi kukira aku akan memanggil mereka untuk membantuku, mengerti?” (Dewi)
Sialan satu ini, dia jelas sekali mengatakan tidur.
“Ahahahahaha!! Kau, apa kau benar-benar anak dua orang itu? E, tunggu, tunggu sebentar. Ara, 'anak tertua' dan 'yang termuda' terlihat bagus. Ah, kelihatannya 'yang ini' tidak mungkin. Sekedar mencoba menghubungkan saja.” (Dewi)
Tsu-Tsukuyomi-sama. I-ini mustahil bagiku.
“Ah, darahmu sepertinya berhubungan. Kau sangat kasihan ya~? Di foto keluarga -tidak- di semua tempat, kau adalah bebek jelek! Komponen angsa-nya = nol. Kau benar-benar parah ya~?” (Dewi) (TL: tidak ada unsur keindahan sama sekali dalam penampilannya)
Hei, akan kulumat habis dirimu.
“Memberikanmu kekuatan tentu sangatlah tidak mungkin. Maaf tapi bisakah kau segera menghilang ke permukaan. Eksistensimu memuakkan” (Serangga)
Kalau semisalnya ada serangga beracun bernama Dewi yang bahkan singa pun akan lari darinya. Bahkan itupun akan lebih baik dibanding Dewi yang satu ini. Kalau aku diminta memilih antara keduanya aku akan memilih untuk dekat dengan si serangga beracun.
Mungkin itu dikarenakan amarahku tapi pikiranku menjadi benar-benar jernih. Aku tidak tahu ternyata ada sifat seperti ini yang eksis dalam diriku.
Setidaknya, bagi makhluk ini untuk menarik orang dari dunia lain dan kemudian menyuruh mereka melakukan hal yang diinginkannya, apa itu perkataan yang seharusnya dia ucapkan?!
Mustahil, kalau keadaannya seperti ini. Bahkan seorang 'gadis SMA memprihatinkan yang hanya melihat fashion saja' memiliki sikap yang lebih baik.
“??”
Percuma. Bahkan ketika aku mencoba menghinanya, kata-kata pun tidak mampu terucap. Bagaimana mengatakannya ya, mulutku hanya menggantung naik dan turun.
“Apa yang kau lakukan? Kau bahkan tidak bisa berbicara. Di dunia ini hanya akulah dewanya dan seorang dewa wanita, kau tahu? Untuk seseorang sepertimu, berada dalam satu ruangan saja sudah merupakan dosa. Kalau aku hamil bagaimana kau akan menebusnya?” (Serangga)
Si sialan satu ini adalah dewi. Seorang dewi unik.
Di galges, seorang gadis dengan rasio tsun 100% akan lebih dicintai ketimbang ini, lebih lebih lebih banyak dicintai!
(TL: galges = game romance khas jepang. Tsun itu = unsur juteknya dari suatu kepribadian lah kira-kira. Biasanya kan rasio kepribadiannya 50-50 antara tsun - dere, hasilnya jadi malu kucing, sok marah tapi seneng-malu-mau, sulit jujur, isi hati dan kelakuan kontras. Kalau 100% kan berarti kecut banget responnya. lol)
Itu adalah hal penting, jadi dengan seluruh energiku aku katakan itu sampai dua kali.
Aku tidak mau. Aku tidak ingin juga. Untuk pergi ke dunia yang diatur oleh dewi ini, adalah pasti bukan dunia yang wajar. Mana mungkin aku mau ke sana.
Tsuki-sama, tolonglah, seriusan tolong aku keluar dari sini. Ini benar-benar mustahil!!
“Yah dalam peraturan dikatakan bahwa kau hanya bisa ditransfer satu kali, dan itu sudah dilakukan. Aku pasti ingin pendinginan dari ini semua” (Serangga)
“K-Kau! Memanggilku kemari karena keadaanmu sendiri, jangan katakan itu!” (Makoto) (TL: don’t give me that!- apalah kalimat yang tepat untuk arti ini susah juga nyarinya.)
“Uwaaa barbarnya! Di saat kau bicara dan ini..? Bahkan suaramu pun tidak indah. Aku tidak peduli lagi untuk membantumu” (Serangga)
“Apa?!” (Makoto)
“Aku sudah menyiapkan para hero yang cocok dengan duniaku. Keadaanmu sudah cukup baik. Tetap berada di duniaku dan jangan membuat masalah. Dengar itu? Untunglah, membuat jaminan sebelumnya ternyata hal yang benar” (Serangga)
Apanya yang cukup baik!! Apa coba maksudnya?!
Aku sendiri sudah bertekad kuat untuk datang kemari!
Mempertimbangkan Tsukuyomi-sama, para dewa, dan semua orang.
Dan dengan itu aku mempersiapkan diriku dengan caraku sendiri, aku meninggalkan dunia lamaku untuk datang kemari, tapi ternyata!
“Ah~ aku sudah mencari tempat untuk melemparmu oke? Kelihatannya meski kau jatuh dari sini kau tidak akan mati. Ah~ orang-orang dari dunia sana benar-benar kuat ya? Aku terkejut” (Serangga)
Untuk datang kemari hanya dalam beberapa menit, dan bisa-bisanya mengatakan kata-kata itu dengan alasan yang egois begitu. Kalau aku mati dan nanti akan diadili, aku pasti akan memanggilnya dengan niat membunuh! Pada dasarnya, tidak ada alasan untuk menerima perlakuan seperti ini! Kan?!
“Dan juga, aku beritahu kau satu hal oke? Jangan pernah mencoba menyebarkan bibit burukmu pada penghuni duniaku yang cantik. Termasuk juga menikah oke? Karena duniaku nanti akan jadi kotor” (Serangga)
Tidak masalah. Aku sudah menyerah menerima apapun dari telinga ini. Ini pertama kalinya bagiku. Waktu sensei di dojo atau senpai di klub memberiku banyak perintah mustahil, sebanyak itu pun lebih baik daripada ini. (TL: sensei = guru, dojo = padepokan / tempat berlatih, senpai = senior/kakak tingkat)
Ada juga saat momen yang hampir menjadi trauma. Dan juga waktu itu! Dan kejadian dulu itu juga!
Bukan itu. Gawat. Aku hampir saja lari dari kenyataan.
Tapi hal satu ini benar-benar suatu kenyataan yang penuh putus asa.
Ke dunia yang harus aku tuju tanpa peduli apapun, aku sudah dikonfirmasi sebelumnya kalau dewi unik mereka punya suatu masalah jiwa. Ternyata itu merupakan peringatan.
“Ah, benar juga. Soal aku yang tidak memberikanmu kekuatan bukanlah lelucon, tapi setidaknya aku dapat memberimu sebuah kekuatan ‘pemahaman’. Tidak ada cara lain, setidaknya aku harus memberimu ini, demi masa depan” (Serangga)
Atas alasan tertentu dia mencapai kesepakatan dengan dirinya sendiri. Yang benar saja, jangan bercanda denganku. Itu lebih seperti... apakah normal bagi dewa untuk memiliki harga diri (kesombongan) setinggi ini? Apakah Tsuki-sama memang spesial atau satu ini yang spesial. Aku ingin percaya pada 'teh'. Untuk kesehatan pikiranku sendiri. (TL: maksudnya momen minum teh bareng dengan Tsuki)
“Hei, si Misumi. Apa kamu mendengarkan?” (Serangga)
Akhirnya namaku punya sebuah ‘si’ depannya. Lebih baik ketimbang hanya dipanggil ‘ini’ atau ‘itu’ kan? Semuanya, aku adalah anak laki tertua keluarga Misumi. Misumi Makoto namaku.
“Apa sih?” (Makoto)
Aku merasa tidak sedang ingin bicara dengan sopan terhadapnya. Tapi pasti itu bisa dimaafkan. Itu benar, karena dari persepsi siapapun akulah pihak yang benar.
“Aku membuatmu supaya bisa berbicara dengan ras demonic dan mamonos* jadi kau akan bisa memahami perkataan mereka. Karena itulah coba lakukan yang terbaik dan pergilah mencari teman dengan Goblins atau Orcs oke? Jangan buat masalah dengan ras yang lain oke? Kalau begitu, pergilah” (Serangga) (TL: mamono- monster)
“Gaya bicara macam ap- wa? Wawawawawawa?!” (Makoto)
“Aaghh~?! Bahkan suara teriakannya juga tidak indah. Nymphs! Bersihkan setiap celah dan pojok ruangan ini! Kalau sampai itu menyebar aku tidak akan tahan” (Serangga)
Mendadak aku diserang perasaan jatuh.
Kata terakhir yang kudengar. Apa aku sejenis inkarnasi dari iblis?
Bahkan kuman pun mencoba melakukan yang terbaik dalam kehidupannya, kau tahu?!
Setidaknya di tempat ini,
“Ah, aku minta maaf. Sebenarnya sejak pertama aku melihatmu aku jatuh cinta padamu. Karena aku harus menunjukkan status dewiku, karena bersikap kasar padamu, aku mohon maaf” (Makoto) (TL: Makoto berimajinasi seandainya dewi bicara seperti itu, mungkin dia akan bisa sedikit memaafkan)
“Ah, ayah(entah siapalah). Kenapa kau membuatku melakukan perlakuan kasar ini? Memberi dia ujian semacam ini” (Makoto) (TL: wkwkwkwk masih ngayal)
Coba keadaannya seperti itu, dan ketika dia bilang itu sambil menangis, aku akan memaafkannya sedikit.
Tidak, mana mungkinlah.
Nada bicara mengungkapkan semuanya, bahwa itu memang sifat aslinya, ya.
Dasar Dewi sialan!!!!!
Bukan, mana mungkin aku panggil dia Dewi lagi! Terkutuklah kau!!!!!!!!
Pemandanganku saat ini adalah permukaan kegelapan. Dan lebih dari itu, DINGIN!
“Uwaaa?!”
Apa yang ditunjukkan pada mataku adalah permukaan gurun.
Yang menerpaku adalah dinginnya angin malam.
Mataku yang terbuka terhadap angin dingin pun meneteskan air mata.
Itu bukan air mata karena emosi oleh situasi, aku hanya ingin memperjelasnya.
Dari ruang berkemilau seketika menuju langit malam.
HAHAHA!
Dewi sialan itu, dia benar-benar menjatuhkanku~
Itu adalah ketinggian dimana aku bisa tahu kalau di bawah adalah gurun. Kalau saja terang maka aku akan melihatnya seolah gambar yang diambil dari zaman modern. Tapi kau tahulah. Sederhananya, ini bisa dihitung sebagai jatuh bebas dari gedung dengan ketinggian yang tak terkira. Tidak peduli bagaimanapun aku memikirkannya aku pasti akan mati kan?
Jelas-jelas mustahil untuk tidak mati dari situasi ini.
Menjadi terlalu kuat adalah masalah, kata orang.
Aku akan hancur dengan mudah!
Aku, apa aku punya kecocokan dengan lawakan?
Aku bahkan tidak perlu memikirkannya. Keberadaanku di grup dulu nomor 2.
Dalam lingkup relasi manusia, aku seorang mediator dan memecahkan permasalahan dan juga menolong pemimpin. Benar-benar sesuatu yang bagus.
Kadang aku mencoba menjadi seorang komedian tapi ternyata mustahil. Kecocokan melawak itu sendiri sudah merupakan skill. Kalau itu berupa magic pasti sudah jadi skill tuh. Tapi sedihnya aku tidak mengira kalau aku memilikinya.
Gawat.
Lalu, apa? Apa seperti kata serangga sialan itu, kalau aku akan mati? Di sini?
Jalan keluar! Pasti ada jalan keluarnya entah di mana!
Aku memperhatikan sekelilingku.
Langit.
Tanah yang terlihat seperti gurun (atau sejenisnya pikirku)
Selesai.
Seperti yang kuduga, ini gawat!
Ayah, Ibu. Terima kasih sudah melahirkanku di dunia satunya itu.
Untuk bisa hidup di dunia tanpa proteksi dewi satu itu aku benar-benar merasa berterima kasih untuk itu. Dewi itu bukan memberi perlindungan dewa, dia bahkan mungkin mengutukku.
Yuki-neesan dan Rin, karena aku sudah datang ke dunia ini kalian tidak akan menghadapi bahaya apapun.
Meski hanya sekedar 10 tahun tapi untuk bisa hidup dengan kalian berdua sebagai salah satu dari saudara, aku merasa bangga de-
Ah, aku menggigit lidah.
Aku tidak bisa menutupnya~ meski ini akhir dariku.
Dengan ini mungkin aku akan mendapat kecocokan dengan lawak. Benar juga.
Di saat terakhir aku akan menutup mataku.
Aku berdoa semoga ini tidak akan sakit. Untuk kalian semua yang sudah membaca Tsuki ha Michibiku Isekai Douchuu...
“-dono! Makoto-dono? Makoto-dono!”
“Tsukuyomi-sama, bahkan aku mulai mendengar suaramu. Aku heran, kenapa bukan dirimu yang jadi dewa di dunia ini, itu benar-benar hal yang disesalkan.” (Makoto)
“Sadarlah, cobalah sadarkan dirimu! Kau bisa mendengarku kan?!” (Tsuki)
Itu suara yang asli?! Tapi bukankah berkomunikasi dengannya itu hal mustahil ya?
“Apa-apaan ini. Aku sudah mendengar semua percakapan tadi. Aku mohon maaf, atas nama kami berdua. Tidak terpikir dia akan melakukan tindakan sembrono seperti ini.” (Tsuki)
“Tsukuyomi-sama! Akusangatinginbertemudenganmu!” (Makoto)
Karena beberapa alasan aku berbicara terlalu cepat. Tapi aku tidak peduli.
“Memang benar kalau ini hanya akan membuat Makoto-dono merasa sedikit sakit, tapi ini bukan suatu pemikiran yang baik untuk dilakukan!” (Tsuki)
“Lagipula, apa kau baik-baik saja? Mencoba mendarat” (Tsuki)
Masih ada beberapa jarak sebelum sampai ke tanah. Apa ini bisa jadi seperti efek tentang lentera yang membuat waktu terasa lebih lama?
“Kau akan merasakan benturan seolah jatuh di kasur dari lantai dua. Tapi kau tidak akan terluka” (Tsuki)
“Wow” (Makoto)
Aku lebih tidak manusiawi dari apa yang kukira. Aku terkesan. Memangnya seberapa mengerikan sih beban yang kumiliki di dunia sebelumnya?
“Makoto-dono telah berlatih keras di dunia itu sebelum ini. Normalnya akan terasa seperti benturan tanpa kasur” (Tsuki)
“Latihanku terbentuk jadi kasur kah? Tidak terduga kalau latihan itu punya efek begini” (Makoto)
Tidak terpikir hanya dengan melakukan itu performa tubuhku akan menunjukkan perbedaan.
“Tapi jatuh dari ketinggian ini pasti tetap menakutkan bagimu. Aku akan coba melakukan sesuatu dengan ini. Kau bisa tenangkan pikiranmu. Di lain hal, aku punya sesuatu untuk diberitahukan padamu” (Tsuki)
Tsuki-sama terlihat kesulitan untuk mengatakan apa yang dia mau sampaikan. Sekarang kalau aku pikir-pikir...
“Um, bukannya kau seharusnya tidak bisa berkomunikasi denganku?” (Makoto)
“Ah, karena itulah aku memaksakan diriku sekarang. Aku mungkin akan tertidur selama seratus tahun atau lebih” (Tsuki)
“Wha?!” (Makoto)
Tanpa berpikir, kata-kataku terlontar. Itu masalah besar! Untuk melakukan itu semua demi menyelamatkanku.
Aku berusaha agar itu sesuai dengan keuntunganku tapi aku akan tetap lebih suka kalau seperti ini.
Tidak ada kebohongan dalam perkataan Tsuki-sama dan badanku yang jatuh menuju permukaan tanah terselubung oleh cahaya putih dan merasakan efek jatuhnya mulai meringan.
“Ngomong-ngomong, dulu saat menunggu Dewi yang seharusnya mendatangimu, waktu itu terasa lama kan?” (Tsuki)
“Yeah” (Makoto)
“Wanita itu benar-benar sudah melakukannya sekarang. Menggunakan fakta bahwa kedua dunia sedang terhubung, dia menarik dua orang dari dunia sebelumnya!” (Tsuki)
Apa dia bilang?! Bukannya itu namanya penculikan?! Kau harusnya menjadi Dewi yang sebenarnya. Melakukan hal seperti itu memangnya tidak masalah?!
“Tidak, mustahil! Mungkinkah?!” (Makoto)
Apa yang terlintas seketika dipikiranku adalah saudaraku.
“Itu bukan saudara Makoto-dono. Meski salah satunya agak seperti itu. Saat di tengah momen transfer itu, terjadi tumpang tindih bersamaan dengan sangat terampil. Mungkin saja itu kenalanmu. Maafkan aku karena itu terjadi secara bersamaan. Itu juga termasuk kelalaianku” (Tsuki)
Ini bukan masalah soal lalai atau sejenisnya.
Aku tidak tahu tentang peraturan dewa tapi dari sikap tidak sabarnya Tsukuyomi-sama, Dewi dunia ini jelas-jelas sedang melanggar aturan.
“Aku mungkin akan segera tertidur tidak lama lagi. Selama kau hidup kita tidak akan pernah bisa bertemu lagi. Tapi soal insiden ini, pasti akan kulaporkan ke dewa yang lain untuk menyelesaikannya. Tidak peduli kalau dia adalah Dewi Pencipta, dia sudah melakukan tindakan brutal. Pasti akan ada hukumannya” (Tsuki)
Suaranya mulai melemah.
Dia benar-benar mencoba memaksakan diri.
Sialan.
Aku akan benar-benar menyukainya bila itu akan terjadi pada wanita itu, itu semua karena Dewa baik ini. Dia, bajingan macam dia yang telah mengacaukan semuanya!
“Dua orang itu, apa mereka baik-baik saja?!” (Makoto)
“Yeah, mereka berdua kelihatannya telah dipanggil menuju istana kerajaan. Mereka telah bertemu ras hyuman(ras manusia) dengan selamat. Dewi itu telah memberi mereka banyak divine protection” (Tsuki) (TL: (perlindungan hebat dari dewa)
Bagian terakhir sepertinya sulit untuk diucapkan oleh Tsuki-sama. Sulit dipercaya. Perbedaan perlakuan itu.
“Aku paham perasaanmu. Kau sudah tidak punya lagi koneksi ke dunia lamamu. Karena itulah aku tahu bahwa aku tidak pantas bicara seperti ini padamu. Aku tahu itu tapi, kalau suatu saat kau bertemu keduanya, tolong perlakukan mereka dengan baik” (Tsuki)
Ah~ benar-benar ya orang ini. Untuk selalu bersikap baik terhadap orang lain.
“Meskipun mereka telah menerima penuh ajaran dari dewi?” (Makoto)
Menerima sejumlah banyak divine protection dari seorang dewi yang setara seperti dewa, terdengar sangat sakti. Apa masih perlu untuk peduli dengan mereka?
“Kalau kita ambil seluruh kekuatan dewi yang mereka miliki, maka Makoto-dono adalah yang terkuat. Bahkan ketika mereka memiliki magic. Kau yang aslinya adalah hyuman sudah memiliki magic power, dan lebih dari itu kau bertahan hidup di dunia keras itu dan tumbuh dengan selamat. Tidak perlu membandingkannya lagi” (Tsuki)
Masih berlanjut, Tsuki-sama bilang.
“Aku adalah sebuah eksistensi samar yang bahkan tidak tahu apa yang dikendalikannya. Yah, saat aku masuk status tertidur mungkin ada perubahan pada pergerakan bulan tapi untuk bulan di dunia lain mungkin para dewa akan melakukan sesuatu tentang itu. Apalagi, bagiku untuk mengatakannya...tapi aku telah menerima sejumlah banyak kekuatan dari orang tuaku dan kekuatan yang kusimpan sendiri juga cukup banyak” (Tsuki)
Dari orang tua, pasti itu Izanagi.
“Untuk kalah dengan dewi macam itu dalam hal divine protection merupakan hal mustahil. Santai saja” (Tsuki)
Oh~ penuh percaya diri. Meski ada sedikit racun dalam kalimat itu sih.
“Situasinya jadi seperti ini. Seharusnya peran hero yang menjadi milikmu, ternyata dicabut oleh dewi itu sendiri, jadi kau tidak perlu menahan diri. Atas nama Tsukuyomi aku mengizinkannya. Kau, Misumi Makoto. Aku memberimu kebebasan di dunia baru ini. Lakukan apa yang kau inginkan!” (Tsuki)
Tsuki-sama benar-benar marah!
Seperti yang diharapkan, kaulah yang terbaik Tsuki-sama!
Aku bahkan tidak butuh izin lagi, padahal memang itu yang mau kulakukan!
Aku bahkan mendapat restu melakukan itu!! Yihaaaaa!!!
Dikelilingi oleh cahaya yang sama dengan bulan, aku perlahan jatuh ke permukaan tanah.
“Dengan restu spirits, aku harap kita bisa bertemu lagi” (Tsuki)
Suara dari dewa yang mulai pecah dan menghilang.
“SIAP!” (Makoto)
Untuk dewa yang kuakui, kubuat suaraku lebih tinggi.
Dewi?
Serangga apa itu?
Apa itu enak?
Aku bangun perlahan dari tanah yang tidak kukenali.
═════════════════════════════════════════════════════════
TL: Fiuh...selesai juga prolog. Lanjut chapter 1 awal cerita setelah ini 😹
═════════════════════════════════════════════════════════
TL: Fiuh...selesai juga prolog. Lanjut chapter 1 awal cerita setelah ini 😹





0 komentar:
Posting Komentar
Apa kata hatimu nya~?