• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Terima kasih kunjungannya, website ini sekedar selingan untuk iseng berkarya dan menghabiskan waktu. Kedepannya pun akan ada banyak perbaikan dan perubahan. selamat menjelajah

Selasa, 03 Oktober 2017

Tsuki Chapter 5: Tidak sadar bahwa itu kejam

21:02 // by Nyankochi // , , , // No comments

( ・ω・)/  nyalo~ 
🐱 Nyankochi desu! 

Note: Ampun 😭😭😭 panjang...4 jam sendiri satu chapter ini 😓

---------------------------------------------------------------------------------




Chapter 5: Tidak sadar bahwa itu kejam







N~ pagi yang menyegarkan.

Dari gunung berbatu dengan permukaan putih aku merasakan angin segar berhembus ke arahku. 

(TL: "angin segar" di pucuk gunung bersalju, wkwkwk)

Baik, aku akan menyerah untuk terkejut dengan spesifikasi manusia super yang ada pada diriku. Saat aku menjelaskan sesuatu ke orang lain, aku hanya akan memberitahu mereka apa yang aku lihat. Apakah normal bahwa ini bukan angin yang menyegarkan tapi ternyata badai yang membekukan?

Bagiku yang mampu merasakan maryoku di udara, caraku memandang dunia telah berubah dan yang kurasakan memang segar kok.

Sekarang, sudah dipastikan bahwa aku level 1.

Itu aneh.

Kalau aku berlevel tinggi dari awal, maka bisa kupahami mengapa aku tidak naik level setelah mengalahkan Liz tapi...

Kalau aku di level 1, seharusnya naik level. Atau memang anjing itu yang terlalu lemah?

Ema-san juga menyaksikanku mengalahkannya dipertarungan itu,  jadi apakah karena ini adalah serangan mendadak?

N~ di atas eksistensiku yang terbilang cheat(curang), konsep level tampaknya tidak berlaku dengan baik pada diriku.

Meskipun aku merasa agak sedih tentang itu, aku merasa sangat tenang.

"Kalau begitu, haruskah aku melakukannya"

Aku pun menuju ke penjaga gerbang dan memintanya untuk menyampaikan sesuatu ke Ema.

Sepucuk surat.

Hebat kan? Tidak hanya berbicara tapi aku juga bisa menulis. (TL: pakai bahasa orc)

Aku bisa membaca dan menulis dengan sempurna.

Hidup cheat. Aku sudah belajar untuk sedikit respek kepada serangga. Sekarang kalau sudah begini aku jadi penasaran apakah hero yang lain sangat hebat atau semacamnya.

Dengan ini, seandainya aku sampai di pemukiman manusia, kurasa aku bisa mendapatkan uang dengan melakukan perdagangan antara manusia dan mamono.

Aku tidak menulis sebanyak itu untuk isi suratnya.

Aku pergi untuk melihat apakah aku bisa melakukan sesuatu tentang Dewa apalah itu.

Kemungkinan besar aku tidak akan kembali tanpa cedera, jadi jangan khawatir denganku dan pulang saja ke desa. Terima kasih.

Itulah kira-kira isi suratnya. Ada juga pembicaraan kecil dan sedikit penjelasan sih.

Aku tidak punya niatan untuk kembali ke goa ini lagi.

Pada akhirnya tidak hanya diajarkan magic, aku juga mendapatkan peta dari area sekitar sini.

Setelah bicara ke Dewa itu aku berencana langsung menuju ke pemukiman manusia.

Kelihatannya ada tempat aneh dimana orang yang mendapatkan material langka dengan cara berkeliling dunia dan orang yang mengejar pengetahuan saling berkumpul.

Jaraknya masih cukup jauh dari goa ini.

Bagaimanapun juga, untuk tiba di sana aku pikir dengan kecepatan terbaikku (berdasarkan perhitungan waktu perjalanan yang sudah kulalui), akan memakan waktu seminggu, kalau terjadi sesuatu di perjalanan mungkin bisa sampai 10 hari.

Di perjalanan ke sana ada beberapa pemukimanan ras (semuanya mamono tanpa terkecuali). Aku bisa berbicara dengan mereka, jadi tidak akan selalu jadi pertarungan.

Soal makanan seharusnya akan baik-baik saja untuk saat ini. Kemarin saja aku sanggup tidak makan apapun sampai 3 hari.

Kalau aku pergi berdasarkan intuisiku, kukira aku akan baik-baik saja bahkan sampai 5 hari. Meski aku tidak ingin melakukan itu sekalipun. 


Bagi para Orc, makanan yang mereka berikan padaku pasti juga penting bagi mereka sendiri. Aku harus memakannya dengan hati-hati.

Sambil memikirkan tentang itu semua, aku mengitari sebuah gunung berbatu dan menuju gunung yang terlihat aneh. Dewa Gunung kah.

Kenyataannya, aku tidak terlalu memikirkan mamono atau dewa yang disebut Shen itu.

Karena ada sesuatu yang mengkhawatirkanku lebih dari itu.

Selain dari tumbal, tidak ada satupun yang pernah melihat Shen adalah hal pertama yang membuatku bertanya-tanya.


Itu artinya tidak ada satu orangpun yang hidup dan pernah bertemu dengannya.

Dan kemudian fakta bahwa para tumbal harus melewati ujian berupa perjalanan melewati gurun sendirian juga aneh.

Karena kalau mereka tidak mampu mencapai tujuan maka tidak ada gunanya melakukan pengorbanan.

Soal tumbal yang mencapai beberapa titik tempat untuk 'menyucikan tubuh', Ema sudah selesai melakukannya. Itu yang mereka beritahukan padaku tapi,

Ada apa dengan logika itu? bukannya sudah tidak ada poinnya melakukan pengorbanan?

Karena dalam kenyataannya, Ema hampir saja menjadi makanan bagi Liz.

Itu benar, begitu pula dengan Liz itu.

Mamono itu kelihatannya ada di berbagai tempat di dunia tapi kelihatannya yang satu itu berada cukup jauh dari area habitat yang seharusnya.

Dan tampaknya mereka terbiasa berburu secara berkelompok.

Lalu, situasi dimana Ema diserang juga sangatlah ganjil.

Aku bisa dengan yakin merasakan seseorang mencoba secara perlahan menghancurkan desa Orc dataran tinggi berdasarkan obrolanku dengan Ema.

Tapi apakah itu memang keinginan si Shen itu?

Aku merasa ada pihak ketiga yang terlibat disini. Atau bahkan bisa jadi ada permasalahan internal antara Orc dataran tinggi.

Dua kemungkinan itulah yang berputar dalam benakku.

Kalau mereka hanya ingin menghancurkan desa, maka sistem pengorbanan itu terdengar bodoh. Karena mereka bisa saja menggunakan kabut dan dalam beberapa tahun desa itu akan hancur dengan sendirinya.

"Secara perlahan kah" (Makoto)

Aku merasa itulah kunci utama dari isu ini.

Aku pikir ada maksud tersendiri dibalik kesengajaan untuk memakan waktu ini.

Kalau Shen menginginkan sesuatu selain dari tumbal, dia pasti akan memintanya untuk diutamakan daripada tumbal.

Jadi kalau ada eksistensi yang mencoba memakan waktu maka itu berarti bukan berasal dari Shen itu sendiri.

Pihak ketiga, atau pemberontak kah.

Mungkin aku yang menyimpulkan terlalu cepat. Bisa jadi bahkan berbeda sama sekali dari apa yang kupikirkan. Orang itu bukan manusia soalnya.

Belum dapat dipastikan kalau dia memiliki pola berpikir yang sama dengan manusia. Kalau aku mempertimbangkan hal itu juga, semua dugaanku bisa hancur berantakan.

Tapi dalam situasiku saat ini, karena aku tidak punya cukup materi untuk terus melangkah maju maka kuputuskan untuk mengikuti cara berpikir itu tadi.

Kalau nanti ternyata menjadi pertarungan, maka biarlah jadi pertarungan.

Mungkin ada bagian dalam diriku yang ingin itu terjadi.

Magic, maryoku. (TL: Magic = teknik sihir, maryoku = mana)

Memang benar aku ingin menggunakan itu semua.

Ada banyak hal lain yang ingin aku pelajari juga, tapi aku harus menyelesaikan ini semua sebelum Ema mulai berangkat pulang.

Sebenarnya ada magic untuk membuat cahaya yang manteranya aku dengar diam-diam dari penjaga gerbang jadi aku sudah mempelajarinya!

Moral? disamping dari daftar magic yang aku dapatkan, aku perlu meningkatkan koleksi magicku dengan cara apapun.

"Aku harus mencobanya sekarang. Kalau kucoba saat pertarungan yang sesungguhnya nanti agak..." (Makoto)

Yang pertama akan menggunakan kekuatan penuh.

Aku tidak tahu akan seberapa melelahkan nantinya. Jadi aku harus coba setidaknya sekali.

⎼⎼

Sekarang karena sudah diputuskan.

Aku harus menyiapkan semuanya terlebih dahulu.

Berbisik dengan rendah aku pun membuat semua brid api berukuran sama seperti kemarin malam. Membuatnya berbentuk bola, aku coba melemparnya kemana saja.


Sukses. Bagus.

Ayo kita lakukan.

Aku menyantaikan tubuh dan dengan hati-hati aku ucapkan sebuah aria, kutuangkan seluruh energiku sambil membayangkan sebuah 'api kuat'. Tapi aku mengucapkannya dalam pikiran.

Dan aku mencoba untuk membisikkannya ke brid. Hal pertama yang ingin kucoba. Apakah aku bisa menggunakannya tanpa mengatakannya.

Sukses. Aku bisa membuat sebuah api berwarna merah pekat yang padat dan berkilau, yang jauh lebih kuat ketimbang yang kubuat kemarin malam.

Aku senang. kalau aku coba ini di goa tadi tanpa memiliki bayangan akan bola terlebih dahulu mungkin itu bisa jadi sebuah malapetaka. Kemungkinan besar bukan hanya aku saja tapi seluruh sekelilingku mungkin akan terbakar api.

Nah, sekarang sebuah target.

Di jalan menuju gunung yang disebut sebagai Gunung Dewa, di kaki gunung yang hanya agak jauh di depan sana, aku bisa melihat sesuatu seperti gerbang.

Yang itu cukup baik. Jarak dari sini lebih dari seratus meter. Aku harus bersyukur atas kelebihan pandanganku ini.

Hal kedua yang ingin kucoba. Aku memanah.

Kemarin malam, aku juga membayangkan 'mengenai tengah sasaran' untuk membuat api terbang dan menembak.

Jadi aku penasaran apa aku bisa membuat sebuah busur dan sebuah panah kemudian menembakkannya seperti bola itu.

Dan saat aku melakukannya aku juga ingin tahu seberapa fleksibel brid bisa melakukannya.

Itu benar.

Aku melakukan seiza(duduk bersimpuh ala Jepang) layaknya yang kulakukan di klub memanah sebelum memegang busur.

Selesai menyiapkan pikiranku aku mulai untuk berkonsentrasi.

Kalau aku mulai dengan melakukan ini duluan, aku akan tahu hasil dari apa yang akan kulakukan.

Ini sesuatu yang banyak  ditanyakan teman-temanku saat kami menyiapkan panah kami. Kenapa kau mulai dari duduk? karena itu memberikan keyakinan diri untuk mengenai tengah sasaran?

Kalau ditanyakan padaku kenapa, maka aku punya sebuah kenangan yang membuatku tersenyum pahit. Kalau aku seperti 'ini' bukanlah kejutan. Aku melakukan memanah dengan tujuan untuk melatih tubuhku.

Awalnya ketika aku mengenai target aku merasa bahagia. Tapi kebahagiaan itu mulai memudar seiring makin mudahnya itu dilakukan.

Tapi dengan teknik ada batasan setepat apa yang bisa kau lakukan.

Mulanya, untuk meningkatkan akurasiku aku menantang banyak hal.

Aku mengusahakan diriku dengan menutup mata dan menenangkan diri. Sering kali aku mensimulasikan gestur tubuhku saat aku mengenai tepat sasaran.

Sikap dan postur tubuhku, setiap gerakan dan aksiku dalam memanah, aku coba untuk selalu berkonsentrasi akan itu semua.

Di saat aku menyadarinya, Sensei memberitahuku bahwa aku boleh menggunakan dojo kapanpun aku mau, dan sebagai gantinya aku berhenti duduk dengan orang sepantaranku.

Sekarang kalau aku pikir-pikir mungkin itu karena Sensei mempedulikanku. (TL: gurunya ini wanita.)

Agar tidak ada orang yang merasa aneh dengan kebiasaanku yang aneh.

Setelah sekian lama.

Saat aku masuk ke dojo, untuk mengubah moodku aku melanjutkan kebiasaan itu. Duduk seiza, di saat aku menghadap ke target aku sudah membayangkan diriku mengenainya. Dan dalam kenyataan pun itu terjadi.

Ketika aku masuk SMA dan bergabung dengan klub memanah.

Sifat kekanakan yang ada di sekitarku membuatku tersenyum. Kemudian aku pun menyadari keadaanku yang abnormal.

Waktu aku meminta saran ke Sensei, dia tidak sadar kalau aku anggota di klub memanah dan sangat terkejut.

Saat aku bilang kalau alasannya karena aku suka menggunakan panah, Sensei mulai tertawa karena kagum.

Sensei pasti memutuskan sesuatu saat itu juga. Dia bilang dia akan mengajariku memanah.

Teknik bertempur memanah yang diwarisi turun menurun di keluarga Sensei adalah seni yang sama sekali tidak terpikirkan olehku. Seni itu penuh dengan teknik yang dirancang untuk banyak situasi.

Meskipun begitu, aku tetap tidak mengubah konsepku tentang 'mengenai tengah sasaran'.

Setelah 1 tahun belajar, Sensei memberitahuku bahwa ini telah selesai dan langsung mengujiku. Dan aku lulus.

Tahun kedua masa SMA. Masih belum lama ini.

Aku mendapatkan posisi wakil presiden dari klub memanah. Mengikuti petunjuk dari Sensei, aku tidak mengikuti satupun turnamen. Para Senpai mengajukanku sebagai wakil presiden karena aku tidak punya banyak kesempatan untuk menggunakan panah. (TL: Jadi wakil itu justru yg paling banyak diberi kerjaan)

Yah, aku merasa sedikit senang bahwa aku diandalkan oleh presiden. Cukup seperti itu, akupun berkonsentrasi mengajari Kouhaiku dan menikmati kehidupan sekolah sampai aku disodori perbincangan gila tentang dunia lain ini.

Saat aku memikirkan itu, kupikir aku cukup abnormal ya. Para kohai yang memanggilku dulu dengan "Senpai senpai!" benar-benar baik.

Oh, tidak ada gunanya bagiku untuk merasa kangen. Realitas realitas. Bagus, apiku masih stabil.

Baik, waktunya serius setelah sekian lama.

Bidikanku adalah bagian tengah dari benda 'yang mirip gerbang Shinto' itu.

Atas dasar kebiasaan aku menaruh tangan kiriku seolah memegang busur, tanganku yang lain melebar ditempatkan horizontal agak kebelakang dari muka.

Aku mencoba simulasi menaruh panah di busur. Kalau aku terbakar saat memegang bola api di tanganku aku akan langsung melemparnya.

Sekarang tunjukkan padaku, kekuatan dari seluruh magicku.

Aku mewujudkan anah panah. Itu hanya imajinasi dalam benakku tapi bola api perlahan mulai mengerucut.

Dan seketika itu berubah menjadi sebuah silinder berbentuk panah dan membentur gerbang. Sebuah anak panah yang menusuk.

"Itu tadi sukses. Tidak ada masalah dengan kecepatannya" (Makoto)

Ini bukan kecepatan dari seseorang yang melemparkannya, itu tadi terbang tepat seperti ditembakkan oleh sesuatu. Akan bagus untuk berlatih dengan itu, meskipun akan sama saja seperti memiliki busur di tangan. Ini kemajuan yang besar. Ini meyakinkanku.

"hah?" (Makoto)

Panahnya tidak menghilang, masih tetap menancap di gerbang dan mulai  berubah. Seolah mencoba menahan diri, panah itu secara aneh mulai membesar dan bergejolak.

Panah api itu meledak.

Bersamaan dengan gerbang.

Hanya dengan beda 1 detik, angin panas berhembus ke arahku. Angin itu sangat panas. Sampai-sampai aku ragu bernapas. Apa ini yang mereka maksud dengan terbakar seutuhnya?!

"Ini bahaya, gerbangnya menghilang" (Makoto)

Baik, itu tidak masalah kalau hanya gerbangnya. Sambil memikirkan itu, aku mulai berjalan dan melihat hal yang sulit dipercaya.

Sesuatu bergerak.

Kalau saja disekitaran gerbang itu ada makhluk hidup...

Ini bahaya.

Disana pasti situasinya amat sangat parah dengan pukulan telak seperti itu.

Kalau masih bergerak aku mungkin masih sempat.

Aku bisa bilang kalau aku tidak berniat menyakiti siapapun, tapi tidak ada cara lain. Dalam situasi ini kalau aku masih sempat aku perlu kembali ke goa para Orc dataran tinggi untuk meminta obat.

Bagaimanapun juga, aku harus pergi ke tempat kejadian.

Aku berlari seperti ingin menghempaskan seluruh keringat dinginku.

----

"Brengsek, kau ini apa?!"

"Uwaaah, ini sudah..." (Makoto)

Ini sudah terlambat. Ada seperti 4 makhluk hidup yang hangus.

Dan satu lagi yang separuh badannya meledak terpisah. Bagaimana dia bisa bicara?

Dia pasti punya vitalitas yang luar biasa.

"Ng...yaah~ bukannya kau penuh semangat?" (Makoto)

Karena dia berbicara padaku dengan normal aku merasa keteganganku mereda.

"Aku akan segera mati!"

"Benar, tentu saja" (Makoto)

"Para Orc dataran tinggi brengsek itu, apa kau memberitahuku kalau mereka menyadari rencana kami, ras demon? atau mereka berencana untuk membunuh naga?!"

"Stop! Stoppu da! Kau, jangan bicara lagi!” (Makoto)

"Kukuku, hidupku tidak bisa terselamatkan lagi. Biarkan aku bicara sampai akhir"

Ya memang kau tidak bisa diselamatkan lagi tapi aku yang melakukannya lho?!


Kau membuat banyak flags berbahaya berdiri satu persatu, kau tahu?!

Hal bodoh macam apa ini?!

"Kalau saja mereka mau bekerja sama seperti yang kami sampaikan, masalahnya akan teratasi dan kami akan memasukkan mereka ke dalam golongan kami, tapi tidak terduga mereka punya monster seperti dirimu!"

Uooooo!!!!!

Intervensi dari pihak ketika yang berada di belakang layar?! Aku baru saja menghajar mereka!

"Yah kau sudah menghancurkan bahkan gerbangnya. Orang itu adalah tipe yang cepat mengambil kesimpulan. Dengan ini amarah dari Shen akan menjadi kenyataan"

"Oi, sebentar?! Apa itu akan membuat Shen menjadi sejengkel itu karena menghancurkan gerbang?!" (Makoto)

Ini bahaya ini bahaya ini bahaya. Ini pola dari memasuki pertarungan dengan bos tanpa melalui save point. 

(TL: kalau di game, belum di save sudah ketemu bos langsung, resiko mati = game over)

Kalau aku bisa memilih opsi perintah bicara, 'ini belum saatnya untuk itu!' adalah apa yang kurasa akan kukatakan.

Itu pasti akan datang!!

"Seekor ras naga sakti, di dalam wilayahnya sendiri, akan melihat gerbangnya dihancurkan. Kukukuku rasakan akibatnya!!!!"

Setelah mengatakan semua yang ingin dia katakan, dia menghilang seperti pasir. Dia pasti mati sambil mempercayai perkataannya sendiri.

Empat tubuh yang lain pun sudah menghilang juga. Apa mereka mengering bersamaan?

Dan kemudian, sebuah getaran.

Terlebih lagi sebuah awan yang menutupi gunung mulai merendah ketinggiannya.

Sebuah awan, bukan, kalau aku berpikir tentang atributnya itu pasti kabut.

Bagaimanapun juga, itu adalah fenomena aneh.

Aku pasti mati!

Aku datang dengan niat berbicara dan setelah berjabat tangan aku akan kembali dengan riang.

Tidak. Aku tidak berpikir sebelumnya bahwa itu akan menjadi hal yang berbahaya yang bisa membuat fenomena tidak wajar terjadi!

Aku akan dikubur lalu dibunuh dan kemudian disakiti?! Urutannya kok aneh?!

Prediksiku benar tapi kok.. kenapa begini jadinya?!

Padahal orang jahatnya ras demon! Pihak ketiga!

"Shen-sama, tolong dengarkan apa yang ingin aku sampaikan!" (Makoto)

Aku berteriak saja ke kabut yang sudah semakin menurun bermeter-meter dari lokasi awalnya.

Di tempat itu ada sesuatu yang bahkan aku mengenalinya. Dengan ekspresi muka penuh kemarahan yang menunjukkan taringnya, seekor dragon-sama telah turun.

Aku dapat dengan jelas mengatakan bahwa dia akan menggigitku sampai mati kapanpun juga!

Bagaimanapun juga...

"Shen itu bukan kerang raksasa?!!!!" (Makoto)

(TL: 蜃 bisa dibaca kerang raksasa tapi juga bisa dibaca naga)

Di dunia lain pengetahuanku sendiri tidak bekerja.

Aku tidak ingin meninggal seperti ini.





Kamis, 14 September 2017

Tsuki Chapter 3: Pertemuan dengan penduduk desa yang pertama, -tidak-, ini tidak termasuk hitungan

18:06 // by Nyankochi // , , , // No comments

( ・ω・)/  nyalo~ 
🐱 Nyankochi desu! 

Note: ini chapter perdana yang panjang gak ketulungan 😓 bikin saya respek lebih sama translator. ’Se-bete ini lho nranslate itu ternyata’, ampun nya~. 
Yah, tapi yang bikin semangat itu karena panjang itu berarti makin enak dibaca.  Iya, enak tinggal bacanya, terkantuk-kantuk pas nranslatenya 

Tapi yang ini mulai seru, pertemuan dengan makhluk pertama dunia lain 
Ada bagian dimana MC berpikir tentang analogi game dari sudut pandang seorang hardcore, susah dipahami memang bagi yang tidak terbiasa dengan game, jadi mohon dimaklumi. Perasaan sih cuma chapter ini yang keterlaluan. (Semoga 😓) 
---------------------------------------------------------------------------------




Chapter 3: Pertemuan dengan penduduk desa yang pertama, -tidak-, ini tidak termasuk hitungan





“Selamatkan aku!!”

Aku mendengar suara dengan jelas. Di suatu tempat dekat dengan bukit batu itu.

“Ya dengan senang hati!!!!” (Makoto)

Dengan jawaban bahagia aku berlari. Tensiku sudah kelewat batas sedari tadi! Aku merasa aku bisa menggunakan skill ultimate(skill terhebat) bergiliran.

Aku melihatnya, sangat jelas. Aku benar-benar punya penglihatan hebat. Aku sama sekali tidak butuh kaca mata. Aku sudah mengeluarkannya sih, meski hanya untuk penampilan!

Yang kulihat memang menakutkanku tapi tidak akan kuhentikan langkahku.

Ada dua makhluk di sana, satu seperti babi dan yang lain berupa anjing dengan 2 kepala. Yah sudahlah, jauh lebih baik ketimbang tidak ada apapun.

Di dalam game ada babi yang bisa terbang di langit dan juga anjing neraka berkepala 3.

Hanya karena mereka sekarang ada di dunia nyata, saat ini aku tidak peduli sama sekali! Aku ini seorang manusia super, ada masalah dengan itu?!

Saat berlari, aku lihat yang meminta tolong untuk diselamatkan adalah si babi. Apa itu yang disebut dengan orc?

Yang menyerang adalah anjing berkepala 2. Apa ini pertarungan antar mamono(monster)

Siapa pihak yang akan kubela sudah jelas. Dialah yang berteriak! Terima kasih, berkatmulah akhirnya aku bisa bertemu makhluk hidup!

Sisi sana kelihatannya sudah menyadari kehadiranku. Mereka berdua menjadi berhati-hati dengan orang yang menerabas kabut debu (aku).

Aku berterima kasih. Dengan ini si orc-kun (mungkin) akan selamat. Itu pun kalau aku bisa mengalahkan si anjing.

“Apa-apaan kau, brengsek! Apa kau mencoba menghalangiku?!” (Anjing berkepala 2)

Si anjing berkepala 2 menggonggong. Dengan alasan tertentu aku bisa mengerti maksud dari gonggongannya. Aku juga sangat terkejut kalau aku bisa memahami perkataan orc. Tidak ada masalah! Tidak kupedulikan!

Meskipun rasanya aneh untuk mendengar gonggongan bersamaan dengan kalimat.

“Hai! Aku seorang human(manusia), Makoto!! Salam kenal!”

Dia masuk jarak serangku.

Merasa aman dengan itu aku menggunakan momentum lariku dan menerjang, menghadapi si anjing aku mengarahkan tendangan terbang ke arahnya.

“Deryaaaaa!!!” (Makoto)

Itu adalah serangan yang menggunakan momentumku untuk mendapatkan inisiatif dan membuka jarak.

“Wa, cepat sekali!!” (Anjing)

Itulah kalimat terakhir si anjing.

Di tengah-tengah antara dua kepala, tendanganku mengenainya.

Itu semua oke sampai sini tapi...

Hanya seperti itu saja, aku menerabas anjing itu. (TL: disobek-sobek, lol)

Haii~?

Musuhku seekor mamono kan? Bukan, bukan mamono permasalahannya. Meski aku berlari dengan segenap kekuatan, sebuah serangan menggunakan seluruh momentum...

Tidak peduli seberapa kuat itu, bukannya ini terlalu aneh?!

“E, Ehmmmm” (Makoto)

Dalam hati aku panik tapi aku berhasil mendarat.

Dengan canggung aku membalikkan badan.

“Ah, yah, terlanjur” (Makoto)

Itu tadi jauh dari perkiraan. Bagian atas badan si anjing berkepala dua terpencar kemana-mana, sementara bagian bawahnya tergeletak di tanah. Itu berada di level dimana kamu tidak akan tahu apa yang telah dilakukan dunia ini padanya.

Maaf, maaf, maaf.

Tidak terpikir hal seperti ini akan terjadi, aku bahkan tidak mampu membayangkannya. Ini nyata lho?

Terlihat seperti sebuah truk melindasnya. (TL: truck-sama!!! :v)

Kupalingkan mataku.

Akulah yang melakukannya tapi aku tidak tahan melihatnya.

Mataku bertemu pandang dengan orc-kun.

Dibandingkan saat dengan si anjing aku bisa melihat matanya yang memiliki lebih banyak rasa takut di dalamnya.

Anehnya, dengan penampilannya yang seharusnya terasa jelek, aku tidak merasa jijik, pasti karena serangga itu, maksudku Dewi. Tidak akan ada pengalaman lebih tepat agar jangan menilai berdasar penampilan saja setelah semua ini. Bilang kalau aku tidak indah, aku tidak berguna..... jangan permainkan diriku.

Dalam banyak artian, memangnya aku ini terlalu parah?

Tapi akhirnya aku bisa berkomunikasi. Aku harus berbicara dengannya.

Ah~ sebuah obrolan. Kegiatan yang indah.

Aku telah melakukan hal yang tidak terelakkan lagi pada anjing itu. Semoga dia istirahat dengan tenang.

Aku hubungkan kedua tanganku dan berdoa untuk kebahagiannya di akhirat. 

Dipertemuan selanjutnya, semoga kami bisa saling berbicara satu sama lain.

Nah, sekarang.

Obrolan kan? Akhirnya aku bisa berbicara dengan seseorang.

Merasakan sensasi antisipasi aneh membuat jantungku berdetak lebih kencang.

Dengan tenang aku melihat ke arah orc sementara aku berdiri di depannya.

“Ah~ salam kenal” (Makoto)

“Hiiii!!! Dia bicaraaaa!” (Orc)








E?

????????

Apa? Apa aku sudah salah sedari awal?!

Tidak, apa kau tahu ini pertemuan pertamaku selama tiga hari ini? Mana mungkin aku akan menyerah. Mustahil.

“Aku bukan orang aneh. Aku ramah dan baik. Apa kau paham perkataanku?” (Makoto)

Si orc-kun(mungkin) menganggukkan kepalanya naik turun tapi kemudian segera menggeleng ke kiri dan ke kanan.

Aku tidak paham apa maksudnya. Apa itu bentuk isyarat yang hanya eksis di dunia ini?

Dia juga berjalan dengan dua kaki jadi menurutku dia lebih mirip dengan manusia.

Tidak, tunggu dulu. Aku melihat babi-san yang tegak berdiri, mungkin karena itu terlihat mirip manusia tanpa sadar aku jadi terlalu memojokkannya.

“Orang yang bisa membunuh “Liz” dengan satu serangan tidakmungkinramahdanbaik!” (Orc)

Oh, aku paham. Aku setuju dengan itu. Itu tadi memang sulit dipercaya. Kupikir juga begitu.

Kelihatannya dia banyak bergumam tapi diluar dugaan ternyata orang yang berpikir jernih. Dia bilang kalau “Itu...melakukan hal seperti itu” atau yang sejenisnya..

“Oke, jadi begini. Aku kuat. Jauh lebih kuat darimu!” (Makoto)

“Hiiii!!!” (Orc)

Si babi jadi ketakutan dan meringkuk.

Pemandangan apa ini? Tadi bilang ‘dia bicara?!’ dan sekarang jadi ketakutan.

Untuk menenangkannya aku mencoba banyak isyarat tubuh.

Ooh, ini tidak nyata.

Yah, dalam situasi seperti ini biasanya kita akan bertemu kalimat ‘aku tertarik denganmu’ atau sesuatu seperti itu, tapi mungkin aku kebanyakan bermain game. (TL: biasanya dalam novel atau game, ras beast tertarik dengan orang yang kuat)

Jadi begitu, itu sesuatu yang hanya bekerja tepat pada tipe ras beast. Sesuatu yang lebih tepat bagi yang berjenis anjing. Memangnya babi bukan binatang buas?

Yang mirip dengan itu mungkin goblin ya. Apa mungkin dia perempuan? Tapi aku pikir Oni* akan cocok juga dengan image-nya. (TL: (Oni- demon, tapi lebih ke ogre sih)

Aku masih memikirkan diriku yang terlalu banyak bermain game, tapi aku masih mencari informasi terkait itu pasti karena eksistensi yang seharusnya muncul di game, mamono, ada dihadapanku.

“Begini, cobalah tenang. Memang benar aku kuat, tapi itu juga benar kalau aku datang untuk menolongmu, kau tahu?” (Makoto)

Aku berusaha menunjukkan fakta bahwa aku tidak berbahaya dengan mengangkat kedua tanganku ke atas.

Yeah, ketimbang bilang ‘aku lebih kuat darimu’ akan lebih baik untuk menunjukkan kalau aku datang kemari bukan untuk melukainya.

Lagipula, intimidasi bukan bagian dari karakterku.

“Kaulah yang menangis ‘selamatkan aku~!” Jadi aku datang dan menyelamatkanmu. Aku temanmu oke?”

Si Orc-kun(mungkin) mengangkat kepalanya dan menghadap ke arahku. Terlihat gemetarannya sedikit mereda.

Bagus bagus, sepertinya aku sudah mendapat prasangka baik. Atas semua kejadian ini...

“Y-yang benar?” (Orc)

Dia memandangku dan melihat mataku masih dalam ketakutan, aku pun mengangguk padanya.

Rasa waspada pada ekspresinya pun mereda lalu berlanjut merasakan ketakutan lagi.

“Heh, kamu ini kenapa sih?!” (TL: Nande ya nen?!)

Di tempat tanpa orang lain aku melakukan tsukkomi. (TL: tsukkomi maksudnya respon/koreksi yang dilakukan spontan, biasanya jadi bahan komedian jepang)

Ini buruk. Masa sih sekedar komunikasi saja bisa sesulit ini.

Aku tidak punya uang atau apapun di tangan jadi tidak ada yang bisa kutawarkan.

A-akankah ini berakhir dengan kegagalan? Tidak mungkin, aku tidak boleh menyerah!

“K-kenapa seorang hyumanbisabicaradenganku??! Jangan-jangan, kamuhyumanyangmemilikitamer?!”(Orc) (TL:maklumi dia ketakutan jadi bicaranya gelagapan)

Tamer(penjinak)?

Apa itu?

Kalau kau bertanya kenapa aku bisa bicara dengannya, ya itu karena seekor serangga seperti dewi.

Jadi begitu, seorang manusia normal, -tidak-, bahkan meski itu normal adalah mustahil bagi manusia untuk bicara dengan mamono~

Kemampuan apa yang telah kau berikan padaku ini! Tentu saja orang akan salah paham denganku gegara ini!

“Ah, ya ampun!! Aku, tamer? Salah! Aku tersesat! Aku menyelamatkanmu! Selesai!” (Makoto)

Sekarang mari kita bicara langsung.

Akan kusampaikan padanya hal yang jelas saja.

“??”

Mu, dia sedang berpikir. Dia gemetaran tapi lebih baik ketimbang sebelumnya. Aku sudah menjaga jarak antara kita jadi aku lebih senang kalau kau berhenti melakukan itu.

Terlebih lagi, aku juga sangat ketakutan, tahu?

Di situasi dimana aku menghadapi babi berdiri dengan dua kaki, untuk bisa saling mengerti benar-benar menyentuhku.

Berputar-putar di tempat ini selama 3 hari bukanlah sia-sia.

“??”

Aku menunggu dalam diam. Bagaimana reaksinya yang di sana? Kehadiran obrolannya sekarang nihil.

“A-aku mengerti” (Orc)

YES!

Aku berhasil! Thanks! Arigatou! ShieShie!

“Terimakasihtelahmenyelamatkanku” (Orc)

Gureito(great,lol), inilah obrolan yang mirip obrolan. Dan terlebih lagi, dengan niat yang baik. Inilah sesuatu yang membuat kita senang.

“Gpp, aku senang kau baik-baik saja. Oh ya, apa desamu dekat sini?” (Makoto)

Aku akan mengubah cara panggilku jadi ‘kimi'(kamu). Memanggil dengan ‘omae omae’  itu rasanya agak tidak sopan kira-kira menurutku sih seperti itu. (TL: omae= kamu, tapi sekelas ‘elo’ gitu)

Mau itu desa, kota, atau cuma sekedar rumah.

Apa saja tidak masalah, aku hanya ingin tidur di tempat beratap.

Tapi yang menyedihkan dia gerakkan kepalanya horizontal.

“J-jangan-jangan kau juga tersesat?” (makoto)

Sekali lagi dia geleng-geleng tanpa menjawab.

“Aku...asal kau tahu ya, sudah tersesat selama 3 hari ini. Apa kau tahu dimana aku bisa menemukan orang sekitaran sini?” (Makoto)

Lagi-lagi dia menggeleng.

Ya Tuhan! Apa iya situasiku ini belum berubah? Ini kan namanya event sih? Ya kan?!

“Tidak ada desa hyuman di sini. Sebutan tempat ini adalah ‘ujung dunia’, sebuah gurun datar hampa” (Orc)

Ujung dunia? Itu...aku pikir aku pernah dengar itu tidak lama ini.

... Hei!

Serangga itu, Masa iya dia benar-benar melemparku ke ujung dunia?!

Jadi itu bukan cuma sekedar cara bicara? Apa biasanya kau memang setega ini?!

Aku merasakan ada kedengkian. Kedengkian yang penuh dengan kebencian.

Sejujurnya, pasti kau akan meragukan perlakuan yang berlebihan seperti ini.

Eh?

Bisa jadi tempat ini disebut sebagai ujung dunia tapi mungkin saja ada kota besar yang bisa terlihat? Terlalu naiiiiiiffff!!!! Lebih naif* ketimbang Tsuki-sama. (TL: naif di jepang disebut amai yang artinya juga manis. Jadi maksudnya ‘terlalu amai(naif), lebih amai(manis) daripada Tsuki-sama, permainan kata gaya bahasa Jepang, bingung? ok lewatkan)

Tidak mungkin, ini pasti tidak mungkin.

Sekarang aku mengerti kepribadian serangga itu. Dia tidak mau mengakui apapun itu yang tidak terlihat cantik. Yang paling utama adalah penampilan mesti oke. Untuk bisa disukai oleh serangga pembenci pria itu, untuk memberikan mereka kekuatan dan berkah m-mereka pasti s-sangat cantik, ya kan?!

“Aku dalam perjalanan menuju dewa gunung Shen-sama untuk mengorbankan diriku” (Orc)

Disaat aku sibuk dengan kebencianku terhadap dewi yang belum pernah kulihat wujud utuhnya itu, dia melanjutkan perkataannya.

Yaaay sebuah event flag~ (TL: event flag itu pemicu poin peristiwa dalam skenario cerita di game, biasanya di game berhubungan dengan tahapan mendapatkan karakter cewek, dan si Makoto sedang menggila moodnya)

Aku bahkan belum sampai ke sebuah desa atau kota dan aku sudah bertemu dengan sebuah event berbau pertarungan dengan mid-boss~ (bos musuh)

Aku bisa mimisan~

Ketika air mata mengalir dari matanya, dia memberitahuku realita hidupnya yang mengejutkan.

Mendengarkannya aku jadi paham kalau dia seorang highland(dataran tinggi) orc yang tinggal di dataran tinggi, sepertinya itu suku orc level tinggi.

Meskipun dari penampilannya tidak terlihat seperti itu.

Sekali setiap setengah tahun, pemilik gunung yang dipanggil dewa gunung meminta seorang gadis muda untuk ditumbalkan.

Kalau mereka tidak mau, kabut tebal akan menutupi desa dan tanaman pertanian tidak akan tumbuh dengan baik.

Itu kan highland orc yang luar biasa. Tidak menjarah tapi malah berburu dan bercocok tanam. Kalian punya kehidupan yang layak.

Secara praktis mereka manusia. Di luar dari penampilannya.

Ngomong-ngomong.

Entah kenapa aku merasa sepertinya flags(bendera tanda) mulai bermunculan satu persatu.

Dari sekian banyak pernyataan dan penjelasan dari situasi ini, kau harusnya sudah tahu jenis flag seperti apa ini seharusnya kan?

Flag pertarungan? Bukan bukan, agak berbeda.

Secercah optimisme? Atau mungkin sebuah racun manis bernama harapan?
Okay. Mari susun faktanya.
  • Aku dibuang ke dunia lain.
  • Aku mengikuti teriakan dan menolong gadis (orc) dari seekor mamono.
  • Kemudian, gadis pertama yang kutemui di dunia ini memberitahuku kalau dia akan menjadi tumbal. (masih belum terjadi)
Sudah paham sekarang? 

Ini he.ro.ine flaaaaaag!!!!??!”?!”?!? (Karena omongannya mengerikan jadi kami putuskan untuk tidak menggambarkan reaksi dari karakter utama kami)

Dan sekarang coba saja lakukan sesuatu!

Pasti nanti flagnya terpicu untuk berdiri! 

(TL: bayangkan saat main game RPG/galge, kita mengikuti rute cerita dari awal lalu bertemu flag event, maka aksi yg dipilih menentukan rute cerita dan ending. Misal: memilih aksi untuk membunuh karakter A, nanti bisa membuka event untuk dapat cewek B di akhir cerita. Kalo dibiarkan hidup si A tadi, nanti dapatnya cewek C, atau bisa jadi nanti mati dan bertemu bad ending. Banyak rute cerita yang bisa dipilih dengan ending berbeda-beda, cabangnya dipisahkan flag event ini sebagai pemicu setiap rute. Gitu lho 😯)

Mustahil, sudah pasti mustahil. Tentu saja, aku bukan tipe yang menilai wanita berdasarkan penampilannya. Dia wanita nomal. Kesannya juga biasa saja.

Tapi, tapi kalau aku akan menjalin hubungan dengan seseorang, aku maunya itu  yang berpenampilan seperti manusia!

Apa bukan termasuk kelewatan ini namanya?

Kalau hanya sekedar tentang penampilan, apa kalau begitu seorang orc juga termasuk?

Nononono, itu namanya sofisme. (TL: sofisme: suatu sikap yang berpendapat bahwa kebenaran itu relatif adanya)

Aku juga punya pengalaman layaknya manusia normal. Aku tidak akan fokuskan pikiranku kepada sesuatu seperti prasangka atau prekonsepsi.

Memang dari gadis orc ini aku tidak mencium ada bau busuk apapun. Malahan, aku bisa mencium wangi seperti bunga dari dirinya.

Seperti seorang senpai yang kau kagumi?

Ha!!

B-bukan! Bukan itu maksudnya! Dengar baik-baik, dari ‘pengalaman’ku juga ada dukungan moral yang ‘jelas’ sekali.

Sebuah pesona yang sampai ke titik abnormal, orang dengan tubuh yang berhenti tumbuh saat  awal masa pertumbuhan, gadis yang terlihat seperti elf, ras beast dengan telinga hewan dan armor yang terbuat dari tulang.

Spirits yang punya wujud manusia, ras demon yang berkulit biru atau hitam atau kadang hijau. Tergantung penampilannya bahkan robot pun tidak masalah!
(TL: dia menyebutkan jenis-jenis heroine yg setidaknya berpenampilan cantik/normal seperti manusia. Loli, elf, dwarf, beast, cyborg(lol), dll)

Seorang orc.

Tapi seorang orc itu rasanya mustahil.

Itu diskriminasi katamu?!

Berisik!! Kalau wujud dasarnya tidak seperti manusia aku tidak mau! Untuk satu ini aku tidak mau mengalah! Aku tidak akan mengalah!

Berdasarkan pengalaman bermainku di 'dunia mimpi para lelaki', aku dengan menyesal, sangat menyesal tidak memiliki seorang gadis orc sebagai target penaklukan.

Wa, pengalaman? Itu betul, itu ada dalam game! Memangnya salah?!

Lagipula, kau pasti paham. Untuk menjadikan dia sebagai target penaklukan adalah hal yang tidak akan pernah terjadi!

“Jadi karena itu, aku mohon maaf” (Makoto)

Aku meminta maaf pada gadis ini secepatnya. Hal seperti ini lebih baik untuk segera dilakukan sesegera mungkin.

“E, apa yang kau bicarakan?” (Orc)

Sial. Aku men-campur aduk-kan konflik dalam hatiku dengan obrolanku saat ini.

Ini kesalahan fatal.

“Y-Yaah~ bukan apa-apa kok~” (Makoto)

Gadis ini kebingungan. Tapi itu hanya untuk sejenak, segera setelah itu dia tersenyum lagi (mungkin, aku tidak tahu) kepadaku.

“Jadi kalau tidak ada masalah bagimu, aku ingin membalas jasamu, Makoto-sama” (Orc) 

Wow, tidak terduga dia bisa mengingat namaku setelah kejadian tadi. Yeah, aku akan melupakan bagian saat dia bilang ‘Dia bicara?!’.

Gadis yang sopan dan berprilaku baik. Sungguh disesalkan. 

Lebih dari gadis manusia aku akan lebih suka dia menjadi gadis anjing atau gadis kucing sih~

“Un, aku Makoto. Ngomong-ngomong, umurku 17 tahun. Senang berkenalan denganmu” (Makoto)

“Aku Ema. Umurku juga 17 tahun” (Ema)

Wah umurnya juga cocok! Benar-benar, hanya karena rasnya makanya flag yang ada cuma battle flag. (TL: tidak ada flag romance-nya karena dia tidak menarik hati, lol, kurang ajar ni MC, jujurnya kelewatan)

Ngomong-ngomong, perkataan si serangga yang bilang ‘jangan menikah’ itu tidak terpikirkan sama sekali di kepalaku.

Soalnya Tsuki-sama bilang padaku aku boleh melakukan apapun yang kumau~

“Tepat di depan sana adalah poin terakhir dari tempat ‘Lapangan Penyucian Diri’ untuk sampai ke dewa gunung. Silakan istirahatkan tubuhmu yang sudah lelah karena perjalanan” (Ema)

Apa itu tempat istirahat? Dia benar-benar gadis yang baik.

Rasanya agak murahan tapi ini terlihat seolah dia menjadikanku pengawalnya sampai kami tiba di tempat ‘Lapangan Penyucian Diri’. Yah kalau hanya melakukan hal seperti sebelumnya sih tidak jadi masalah. Kalau hanya sekedar batu jatuh pun aku rasa aku  juga bisa menangkisnya.

“T-terima kasih Ema” (Makoto)

Aku terima ajakannya dan kami mulai berjalan menuju ke arah si Dewa Gunung itu.

Anehnya, semakin sering aku bicara dengannya semakin jelas aku bisa memahami cara bicaranya. (TL: aslinya, Ema bicara acak-acakan, tapi translator permudah biar kalian mudah bacanya 😀 makasihnya manya~)

Serangga itu pasti telah memberiku kemampuan untuk bisa memahami bahasa ras lain semakin sering aku bicara dengan mereka. Seperti mengarah langsung ke pikiran mereka.

Baik, aku tidak punya masalah dengan itu.

Sambil mengobrol dengannya aku melanjutkan perjalananku. Dia memberitahuku bagaimana desanya secara perlahan kehilangan para gadis mudanya. Dia memberitahuku cerita tentang festival yang telah dilakukan desanya saat dalam keadaan damai.

Kalau dua gadis muda pergi setiap tahun sebagai tumbal pastilah perlahan akan habis. Itu kalkulasi sederhana. Bahkan bocah pun tahu itu.

Sejak awal, Ema yang menjadi tumbal sedang menuju tempat kematiannya.

Sampai-sampai cara bicaranya menjadi muram, tentu hal itu tidak mengejutkan. Aku hanya meresponnya dan mengikutinya, tapi aku masih punya beberapa pertanyaan. Akan kupikirkan nanti dengan hati-hati.

Saat aku sampai di poin istirahat terakhir apa yang harus kulakukan.

Kalau aku pergi dan mengalahkan mid-boss, flagnya pasti nanti terpicu kan?

Dia itu gadis yang baik tapi....dia itu gadis yang sangat baik tapi...!!!

Dia punya kepribadian yang baik, umurnya juga sepantaran. Dia juga anak dari kepala desa jadi kelihatannya aku seperti seorang penambang emas.

Muu~ aduh, kenapa kamu bukan manusia biasa, Ema?

Bisa jadi kamu sebenarnya seorang putri cantik yang telah dikutuk. Peradaban manusia terlalu jauh dari sini jadi jelas itu tidak mungkin.

“Ah, itu tempatnya” (Ema)

Ema-san menunjuk ke sebuah goa. Itu memang terlihat seperti dibuat dengan sengaja. Keadaan pintu masuk, termasuk juga jalannya. Jelas sekali ada tanda bekas dikerjakan oleh tangan.

“Um, Makoto-sama. Aku minta maaf tapi bisakah kau tunggu sebentar di sini? Aku harus menjelaskan dulu ke orang-orang yang menjaga tempat ini tentang Makoto-sama” (Ema)

“Aku mengerti” (Makoto)

Itu cukup masuk akal. Kalau aku tiba-tiba masuk dengannya mungkin aku bisa diserang. Aku bisa sedikit mengerti permintaan Ema-san.

Tidak mungkin dia akan membawa sepasukan tentara untuk menyerangku.

Meski itu dia lakukan, karena aku bisa melihat dengan jelas pintu masuknya tentu aku bisa kabur dari sini.

Setelah memastikan Ema menghilang ke dalam goa, aku mulai memikirkan tentang masa depan. Kalau seperti ini terus Ema-san akan mati. Dia tumbal soalnya.

Gadis itu benar-benar orc yang baik. Terlebih dialah yang pertama berbicara denganku.

Mungkin agak sedikit berbeda tapi dia rasanya seperti seorang teman.

Kalau memungkinkan aku ingin bisa menyelamatkannya, tapi flag itu susah. Dan kekuatan musuhku juga tidak kuketahui.

Kalau aku berpikir tentang semua kejadian yang telah terjadi, tidak akan aneh rasanya untuk menghadapi sosok seperti last-boss(musuh terakhir).

Ini sepenuhnya maso-game.

Meskipun ini bukan game tapi realita, jadi jelas sekali kalau ini akan sulit untuk dilakukan.

Kalau saja aku bisa berhasil mendapatkan informasi di goa ini.

Pagi buta aku akan keluar, mengalahkan dewa gunung itu dan hasilnya aku akan menyelamatkan si gadis.

Tidak masalah kalau aku hanya menghilang setelahnya.

Kalau aku janji padanya jika desanya bisa terselamatkan, dia akan bisa kembali ke desa.

Si Bos yang Ema-san panggil sebagai Shen-sama, kalau itu aku mungkin aku bisa berbicara dengannya. Pasti ada cara lain untuk menyelesaikan masalah selain bertarung.

Aku melihat Ema-san yang melambaikan tangannya di pintu masuk goa. Dia tersenyum. Dia pasti berhasil dengan negosiasinya.

Melihat keadaannya aku berpikir untuk sedikit menjadi hero yang tidak perlu aku lakukan menurut Dewi itu.