( ・ω・)/ nyalo~
🐱 Nyankochi desu!
Note: Ampun 😭😭😭 panjang...4 jam sendiri satu chapter ini 😓
---------------------------------------------------------------------------------
Chapter 5: Tidak sadar bahwa itu kejam
N~ pagi yang menyegarkan.
Dari gunung berbatu dengan permukaan putih aku merasakan angin segar berhembus ke arahku.
(TL: "angin segar" di pucuk gunung bersalju, wkwkwk)
Baik, aku akan menyerah untuk terkejut dengan spesifikasi manusia super yang ada pada diriku. Saat aku menjelaskan sesuatu ke orang lain, aku hanya akan memberitahu mereka apa yang aku lihat. Apakah normal bahwa ini bukan angin yang menyegarkan tapi ternyata badai yang membekukan?
Bagiku yang mampu merasakan maryoku di udara, caraku memandang dunia telah berubah dan yang kurasakan memang segar kok.
Sekarang, sudah dipastikan bahwa aku level 1.
Itu aneh.
Kalau aku berlevel tinggi dari awal, maka bisa kupahami mengapa aku tidak naik level setelah mengalahkan Liz tapi...
Kalau aku di level 1, seharusnya naik level. Atau memang anjing itu yang terlalu lemah?
Ema-san juga menyaksikanku mengalahkannya dipertarungan itu, jadi apakah karena ini adalah serangan mendadak?
N~ di atas eksistensiku yang terbilang cheat(curang), konsep level tampaknya tidak berlaku dengan baik pada diriku.
Meskipun aku merasa agak sedih tentang itu, aku merasa sangat tenang.
"Kalau begitu, haruskah aku melakukannya"
Aku pun menuju ke penjaga gerbang dan memintanya untuk menyampaikan sesuatu ke Ema.
Sepucuk surat.
Hebat kan? Tidak hanya berbicara tapi aku juga bisa menulis. (TL: pakai bahasa orc)
Aku bisa membaca dan menulis dengan sempurna.
Hidup cheat. Aku sudah belajar untuk sedikit respek kepada serangga. Sekarang kalau sudah begini aku jadi penasaran apakah hero yang lain sangat hebat atau semacamnya.
Dengan ini, seandainya aku sampai di pemukiman manusia, kurasa aku bisa mendapatkan uang dengan melakukan perdagangan antara manusia dan mamono.
Aku tidak menulis sebanyak itu untuk isi suratnya.
Aku pergi untuk melihat apakah aku bisa melakukan sesuatu tentang Dewa apalah itu.
Kemungkinan besar aku tidak akan kembali tanpa cedera, jadi jangan khawatir denganku dan pulang saja ke desa. Terima kasih.
Itulah kira-kira isi suratnya. Ada juga pembicaraan kecil dan sedikit penjelasan sih.
Aku tidak punya niatan untuk kembali ke goa ini lagi.
Pada akhirnya tidak hanya diajarkan magic, aku juga mendapatkan peta dari area sekitar sini.
Setelah bicara ke Dewa itu aku berencana langsung menuju ke pemukiman manusia.
Kelihatannya ada tempat aneh dimana orang yang mendapatkan material langka dengan cara berkeliling dunia dan orang yang mengejar pengetahuan saling berkumpul.
Jaraknya masih cukup jauh dari goa ini.
Bagaimanapun juga, untuk tiba di sana aku pikir dengan kecepatan terbaikku (berdasarkan perhitungan waktu perjalanan yang sudah kulalui), akan memakan waktu seminggu, kalau terjadi sesuatu di perjalanan mungkin bisa sampai 10 hari.
Di perjalanan ke sana ada beberapa pemukimanan ras (semuanya mamono tanpa terkecuali). Aku bisa berbicara dengan mereka, jadi tidak akan selalu jadi pertarungan.
Soal makanan seharusnya akan baik-baik saja untuk saat ini. Kemarin saja aku sanggup tidak makan apapun sampai 3 hari.
Kalau aku pergi berdasarkan intuisiku, kukira aku akan baik-baik saja bahkan sampai 5 hari. Meski aku tidak ingin melakukan itu sekalipun.
Bagi para Orc, makanan yang mereka berikan padaku pasti juga penting bagi mereka sendiri. Aku harus memakannya dengan hati-hati.
Sambil memikirkan tentang itu semua, aku mengitari sebuah gunung berbatu dan menuju gunung yang terlihat aneh. Dewa Gunung kah.
Kenyataannya, aku tidak terlalu memikirkan mamono atau dewa yang disebut Shen itu.
Karena ada sesuatu yang mengkhawatirkanku lebih dari itu.
Selain dari tumbal, tidak ada satupun yang pernah melihat Shen adalah hal pertama yang membuatku bertanya-tanya.
Itu artinya tidak ada satu orangpun yang hidup dan pernah bertemu dengannya.
Dan kemudian fakta bahwa para tumbal harus melewati ujian berupa perjalanan melewati gurun sendirian juga aneh.
Karena kalau mereka tidak mampu mencapai tujuan maka tidak ada gunanya melakukan pengorbanan.
Soal tumbal yang mencapai beberapa titik tempat untuk 'menyucikan tubuh', Ema sudah selesai melakukannya. Itu yang mereka beritahukan padaku tapi,
Ada apa dengan logika itu? bukannya sudah tidak ada poinnya melakukan pengorbanan?
Karena dalam kenyataannya, Ema hampir saja menjadi makanan bagi Liz.
Itu benar, begitu pula dengan Liz itu.
Mamono itu kelihatannya ada di berbagai tempat di dunia tapi kelihatannya yang satu itu berada cukup jauh dari area habitat yang seharusnya.
Dan tampaknya mereka terbiasa berburu secara berkelompok.
Lalu, situasi dimana Ema diserang juga sangatlah ganjil.
Aku bisa dengan yakin merasakan seseorang mencoba secara perlahan menghancurkan desa Orc dataran tinggi berdasarkan obrolanku dengan Ema.
Tapi apakah itu memang keinginan si Shen itu?
Aku merasa ada pihak ketiga yang terlibat disini. Atau bahkan bisa jadi ada permasalahan internal antara Orc dataran tinggi.
Dua kemungkinan itulah yang berputar dalam benakku.
Kalau mereka hanya ingin menghancurkan desa, maka sistem pengorbanan itu terdengar bodoh. Karena mereka bisa saja menggunakan kabut dan dalam beberapa tahun desa itu akan hancur dengan sendirinya.
"Secara perlahan kah" (Makoto)
Aku merasa itulah kunci utama dari isu ini.
Aku pikir ada maksud tersendiri dibalik kesengajaan untuk memakan waktu ini.
Kalau Shen menginginkan sesuatu selain dari tumbal, dia pasti akan memintanya untuk diutamakan daripada tumbal.
Jadi kalau ada eksistensi yang mencoba memakan waktu maka itu berarti bukan berasal dari Shen itu sendiri.
Pihak ketiga, atau pemberontak kah.
Mungkin aku yang menyimpulkan terlalu cepat. Bisa jadi bahkan berbeda sama sekali dari apa yang kupikirkan. Orang itu bukan manusia soalnya.
Belum dapat dipastikan kalau dia memiliki pola berpikir yang sama dengan manusia. Kalau aku mempertimbangkan hal itu juga, semua dugaanku bisa hancur berantakan.
Tapi dalam situasiku saat ini, karena aku tidak punya cukup materi untuk terus melangkah maju maka kuputuskan untuk mengikuti cara berpikir itu tadi.
Kalau nanti ternyata menjadi pertarungan, maka biarlah jadi pertarungan.
Mungkin ada bagian dalam diriku yang ingin itu terjadi.
Magic, maryoku. (TL: Magic = teknik sihir, maryoku = mana)
Memang benar aku ingin menggunakan itu semua.
Ada banyak hal lain yang ingin aku pelajari juga, tapi aku harus menyelesaikan ini semua sebelum Ema mulai berangkat pulang.
Sebenarnya ada magic untuk membuat cahaya yang manteranya aku dengar diam-diam dari penjaga gerbang jadi aku sudah mempelajarinya!
Moral? disamping dari daftar magic yang aku dapatkan, aku perlu meningkatkan koleksi magicku dengan cara apapun.
"Aku harus mencobanya sekarang. Kalau kucoba saat pertarungan yang sesungguhnya nanti agak..." (Makoto)
Yang pertama akan menggunakan kekuatan penuh.
Aku tidak tahu akan seberapa melelahkan nantinya. Jadi aku harus coba setidaknya sekali.
⎼⎼
Sekarang karena sudah diputuskan.
Aku harus menyiapkan semuanya terlebih dahulu.
Berbisik dengan rendah aku pun membuat semua brid api berukuran sama seperti kemarin malam. Membuatnya berbentuk bola, aku coba melemparnya kemana saja.
Sukses. Bagus.
Ayo kita lakukan.
Aku menyantaikan tubuh dan dengan hati-hati aku ucapkan sebuah aria, kutuangkan seluruh energiku sambil membayangkan sebuah 'api kuat'. Tapi aku mengucapkannya dalam pikiran.
Dan aku mencoba untuk membisikkannya ke brid. Hal pertama yang ingin kucoba. Apakah aku bisa menggunakannya tanpa mengatakannya.
Sukses. Aku bisa membuat sebuah api berwarna merah pekat yang padat dan berkilau, yang jauh lebih kuat ketimbang yang kubuat kemarin malam.
Aku senang. kalau aku coba ini di goa tadi tanpa memiliki bayangan akan bola terlebih dahulu mungkin itu bisa jadi sebuah malapetaka. Kemungkinan besar bukan hanya aku saja tapi seluruh sekelilingku mungkin akan terbakar api.
Nah, sekarang sebuah target.
Di jalan menuju gunung yang disebut sebagai Gunung Dewa, di kaki gunung yang hanya agak jauh di depan sana, aku bisa melihat sesuatu seperti gerbang.
Yang itu cukup baik. Jarak dari sini lebih dari seratus meter. Aku harus bersyukur atas kelebihan pandanganku ini.
Hal kedua yang ingin kucoba. Aku memanah.
Kemarin malam, aku juga membayangkan 'mengenai tengah sasaran' untuk membuat api terbang dan menembak.
Jadi aku penasaran apa aku bisa membuat sebuah busur dan sebuah panah kemudian menembakkannya seperti bola itu.
Dan saat aku melakukannya aku juga ingin tahu seberapa fleksibel brid bisa melakukannya.
Itu benar.
Aku melakukan seiza(duduk bersimpuh ala Jepang) layaknya yang kulakukan di klub memanah sebelum memegang busur.
Selesai menyiapkan pikiranku aku mulai untuk berkonsentrasi.
Kalau aku mulai dengan melakukan ini duluan, aku akan tahu hasil dari apa yang akan kulakukan.
Ini sesuatu yang banyak ditanyakan teman-temanku saat kami menyiapkan panah kami. Kenapa kau mulai dari duduk? karena itu memberikan keyakinan diri untuk mengenai tengah sasaran?
Kalau ditanyakan padaku kenapa, maka aku punya sebuah kenangan yang membuatku tersenyum pahit. Kalau aku seperti 'ini' bukanlah kejutan. Aku melakukan memanah dengan tujuan untuk melatih tubuhku.
Awalnya ketika aku mengenai target aku merasa bahagia. Tapi kebahagiaan itu mulai memudar seiring makin mudahnya itu dilakukan.
Tapi dengan teknik ada batasan setepat apa yang bisa kau lakukan.
Mulanya, untuk meningkatkan akurasiku aku menantang banyak hal.
Aku mengusahakan diriku dengan menutup mata dan menenangkan diri. Sering kali aku mensimulasikan gestur tubuhku saat aku mengenai tepat sasaran.
Sikap dan postur tubuhku, setiap gerakan dan aksiku dalam memanah, aku coba untuk selalu berkonsentrasi akan itu semua.
Di saat aku menyadarinya, Sensei memberitahuku bahwa aku boleh menggunakan dojo kapanpun aku mau, dan sebagai gantinya aku berhenti duduk dengan orang sepantaranku.
Sekarang kalau aku pikir-pikir mungkin itu karena Sensei mempedulikanku. (TL: gurunya ini wanita.)
Agar tidak ada orang yang merasa aneh dengan kebiasaanku yang aneh.
Setelah sekian lama.
Saat aku masuk ke dojo, untuk mengubah moodku aku melanjutkan kebiasaan itu. Duduk seiza, di saat aku menghadap ke target aku sudah membayangkan diriku mengenainya. Dan dalam kenyataan pun itu terjadi.
Ketika aku masuk SMA dan bergabung dengan klub memanah.
Sifat kekanakan yang ada di sekitarku membuatku tersenyum. Kemudian aku pun menyadari keadaanku yang abnormal.
Waktu aku meminta saran ke Sensei, dia tidak sadar kalau aku anggota di klub memanah dan sangat terkejut.
Saat aku bilang kalau alasannya karena aku suka menggunakan panah, Sensei mulai tertawa karena kagum.
Sensei pasti memutuskan sesuatu saat itu juga. Dia bilang dia akan mengajariku memanah.
Teknik bertempur memanah yang diwarisi turun menurun di keluarga Sensei adalah seni yang sama sekali tidak terpikirkan olehku. Seni itu penuh dengan teknik yang dirancang untuk banyak situasi.
Meskipun begitu, aku tetap tidak mengubah konsepku tentang 'mengenai tengah sasaran'.
Setelah 1 tahun belajar, Sensei memberitahuku bahwa ini telah selesai dan langsung mengujiku. Dan aku lulus.
Tahun kedua masa SMA. Masih belum lama ini.
Aku mendapatkan posisi wakil presiden dari klub memanah. Mengikuti petunjuk dari Sensei, aku tidak mengikuti satupun turnamen. Para Senpai mengajukanku sebagai wakil presiden karena aku tidak punya banyak kesempatan untuk menggunakan panah. (TL: Jadi wakil itu justru yg paling banyak diberi kerjaan)
Yah, aku merasa sedikit senang bahwa aku diandalkan oleh presiden. Cukup seperti itu, akupun berkonsentrasi mengajari Kouhaiku dan menikmati kehidupan sekolah sampai aku disodori perbincangan gila tentang dunia lain ini.
Saat aku memikirkan itu, kupikir aku cukup abnormal ya. Para kohai yang memanggilku dulu dengan "Senpai senpai!" benar-benar baik.
Oh, tidak ada gunanya bagiku untuk merasa kangen. Realitas realitas. Bagus, apiku masih stabil.
Baik, waktunya serius setelah sekian lama.
Bidikanku adalah bagian tengah dari benda 'yang mirip gerbang Shinto' itu.
Atas dasar kebiasaan aku menaruh tangan kiriku seolah memegang busur, tanganku yang lain melebar ditempatkan horizontal agak kebelakang dari muka.
Aku mencoba simulasi menaruh panah di busur. Kalau aku terbakar saat memegang bola api di tanganku aku akan langsung melemparnya.
Sekarang tunjukkan padaku, kekuatan dari seluruh magicku.
Aku mewujudkan anah panah. Itu hanya imajinasi dalam benakku tapi bola api perlahan mulai mengerucut.
Dan seketika itu berubah menjadi sebuah silinder berbentuk panah dan membentur gerbang. Sebuah anak panah yang menusuk.
"Itu tadi sukses. Tidak ada masalah dengan kecepatannya" (Makoto)
Ini bukan kecepatan dari seseorang yang melemparkannya, itu tadi terbang tepat seperti ditembakkan oleh sesuatu. Akan bagus untuk berlatih dengan itu, meskipun akan sama saja seperti memiliki busur di tangan. Ini kemajuan yang besar. Ini meyakinkanku.
"hah?" (Makoto)
Panahnya tidak menghilang, masih tetap menancap di gerbang dan mulai berubah. Seolah mencoba menahan diri, panah itu secara aneh mulai membesar dan bergejolak.
Panah api itu meledak.
Bersamaan dengan gerbang.
Hanya dengan beda 1 detik, angin panas berhembus ke arahku. Angin itu sangat panas. Sampai-sampai aku ragu bernapas. Apa ini yang mereka maksud dengan terbakar seutuhnya?!
"Ini bahaya, gerbangnya menghilang" (Makoto)
Baik, itu tidak masalah kalau hanya gerbangnya. Sambil memikirkan itu, aku mulai berjalan dan melihat hal yang sulit dipercaya.
Sesuatu bergerak.
Kalau saja disekitaran gerbang itu ada makhluk hidup...
Ini bahaya.
Disana pasti situasinya amat sangat parah dengan pukulan telak seperti itu.
Kalau masih bergerak aku mungkin masih sempat.
Aku bisa bilang kalau aku tidak berniat menyakiti siapapun, tapi tidak ada cara lain. Dalam situasi ini kalau aku masih sempat aku perlu kembali ke goa para Orc dataran tinggi untuk meminta obat.
Bagaimanapun juga, aku harus pergi ke tempat kejadian.
Aku berlari seperti ingin menghempaskan seluruh keringat dinginku.
----
"Brengsek, kau ini apa?!"
"Uwaaah, ini sudah..." (Makoto)
Ini sudah terlambat. Ada seperti 4 makhluk hidup yang hangus.
Dan satu lagi yang separuh badannya meledak terpisah. Bagaimana dia bisa bicara?
Dia pasti punya vitalitas yang luar biasa.
"Ng...yaah~ bukannya kau penuh semangat?" (Makoto)
Karena dia berbicara padaku dengan normal aku merasa keteganganku mereda.
"Aku akan segera mati!"
"Benar, tentu saja" (Makoto)
"Para Orc dataran tinggi brengsek itu, apa kau memberitahuku kalau mereka menyadari rencana kami, ras demon? atau mereka berencana untuk membunuh naga?!"
"Stop! Stoppu da! Kau, jangan bicara lagi!” (Makoto)
"Kukuku, hidupku tidak bisa terselamatkan lagi. Biarkan aku bicara sampai akhir"
Ya memang kau tidak bisa diselamatkan lagi tapi aku yang melakukannya lho?!
Kau membuat banyak flags berbahaya berdiri satu persatu, kau tahu?!
Hal bodoh macam apa ini?!
"Kalau saja mereka mau bekerja sama seperti yang kami sampaikan, masalahnya akan teratasi dan kami akan memasukkan mereka ke dalam golongan kami, tapi tidak terduga mereka punya monster seperti dirimu!"
Uooooo!!!!!
Intervensi dari pihak ketika yang berada di belakang layar?! Aku baru saja menghajar mereka!
"Yah kau sudah menghancurkan bahkan gerbangnya. Orang itu adalah tipe yang cepat mengambil kesimpulan. Dengan ini amarah dari Shen akan menjadi kenyataan"
"Oi, sebentar?! Apa itu akan membuat Shen menjadi sejengkel itu karena menghancurkan gerbang?!" (Makoto)
Ini bahaya ini bahaya ini bahaya. Ini pola dari memasuki pertarungan dengan bos tanpa melalui save point.
(TL: kalau di game, belum di save sudah ketemu bos langsung, resiko mati = game over)
Kalau aku bisa memilih opsi perintah bicara, 'ini belum saatnya untuk itu!' adalah apa yang kurasa akan kukatakan.
Itu pasti akan datang!!
"Seekor ras naga sakti, di dalam wilayahnya sendiri, akan melihat gerbangnya dihancurkan. Kukukuku rasakan akibatnya!!!!"
Setelah mengatakan semua yang ingin dia katakan, dia menghilang seperti pasir. Dia pasti mati sambil mempercayai perkataannya sendiri.
Empat tubuh yang lain pun sudah menghilang juga. Apa mereka mengering bersamaan?
Dan kemudian, sebuah getaran.
Terlebih lagi sebuah awan yang menutupi gunung mulai merendah ketinggiannya.
Sebuah awan, bukan, kalau aku berpikir tentang atributnya itu pasti kabut.
Bagaimanapun juga, itu adalah fenomena aneh.
Aku pasti mati!
Aku datang dengan niat berbicara dan setelah berjabat tangan aku akan kembali dengan riang.
Tidak. Aku tidak berpikir sebelumnya bahwa itu akan menjadi hal yang berbahaya yang bisa membuat fenomena tidak wajar terjadi!
Aku akan dikubur lalu dibunuh dan kemudian disakiti?! Urutannya kok aneh?!
Prediksiku benar tapi kok.. kenapa begini jadinya?!
Padahal orang jahatnya ras demon! Pihak ketiga!
"Shen-sama, tolong dengarkan apa yang ingin aku sampaikan!" (Makoto)
Aku berteriak saja ke kabut yang sudah semakin menurun bermeter-meter dari lokasi awalnya.
Di tempat itu ada sesuatu yang bahkan aku mengenalinya. Dengan ekspresi muka penuh kemarahan yang menunjukkan taringnya, seekor dragon-sama telah turun.
Aku dapat dengan jelas mengatakan bahwa dia akan menggigitku sampai mati kapanpun juga!
Bagaimanapun juga...
"Shen itu bukan kerang raksasa?!!!!" (Makoto)
(TL: 蜃 bisa dibaca kerang raksasa tapi juga bisa dibaca naga)
Di dunia lain pengetahuanku sendiri tidak bekerja.
Aku tidak ingin meninggal seperti ini.





