( ・ω・)/ nyalo~
🐱 Nyankochi desu!
Masih belum ada hal kompleks, tapi santailah 😋 dinikmati saja ceritanya~.
Chapter 2: Aku mengandalkan teriakan
Sejauh mata memandang cuma ada gurun dan bukit berbatu.
Berjalan tanpa arah di gurun luas ini dan juga bukit berbatu.
Sebuah skenario yang berlanjut terus menerus.
Ketika aku dulu jatuh, mataku penuh dengan air mata dan aku tidak punya ruang untuk melihat seksama apa yang ada di bawah sana.
Yang benar saja? Situasi begini. Ini sudah hari ketiga lho?
Sekarang ada baiknya kalau ada suatu perubahan.
Sejak saat aku jatuh, aku sudah berjalan lurus tanpa peduli siang dan malam.
Beginilah, tanah datar yang luas. Sebelum aku sadar bahwa aku ada di tempat yang sama, atau semacamnya, agar itu tidak terjadi aku menandai suatu pemandangan dan melanjutkan perjalanan.
Bahkan dengan cara itupun, sesuatu yang sudah biasa aku lihat di depanku, yaitu sebuah gunung yang tinggi mencolok, aku merasa tidak bertambah dekat sama sekali.
Mungkin ini ilusi, dan sering aku merasa hatiku akan hancur.
Soalnya, memang tidak ada siapapun atau apapun di sini.
Rasanya sulit dipercaya. Tidak hanya orang, sampai hewan pun tidak ada lho?
Ah, aku sudah melupakannya.
Tidak ada satupun yang bisa dimakan. Terkadang aku melihat ada rumput kering, sesuai dugaan, kupikir aku tidak akan sanggup memakannya. Tapi menemukan itu saja sudah langka sekali!
Aku yang lapar tapi masih bisa berjalan mungkin karena tubuhku sudah menjadi manusia super. Kalau biasa seperti sebelumnya, harusnya aku sudah kekeringan dan tidak mampu berdiri.
Mencoba melakukan yang Tsuki-sama katakan padaku, aku mencoba menggunakan ‘kemampuan’ yang diberikan padaku, jadi aku berkonsentrasi untuk mengaktifkannya tapi gagal.
Aku mencoba mengumpulkan kekuatan ke dalam telapak tanganku, tapi..
Aku tidak mengerti sama sekali. Aku memang dapat merasakan kekuatan terkumpul tapi tidak ada yang terjadi.
Aku coba meletakkan tanganku di tanah tapi tetap saja percuma.
Aku juga melakukan banyak tes.
Hanya saja, objek yang kupunya di tangan perlahan bergerak bergantung pada seberapa banyak energi yang kugunakan.
Ini mungkin wujud yang paling mudah dilihat dan dimengerti. Tapi bukan berarti bergerak sungguhan, objek itu hanya bergetar di tanganku.
Itu adalah misteri. Dan juga, menurutku aku tidak akan bisa keluar dari situasi sekarang dengan menggunakan ini.
Yah, kekuatan ini adalah hal berharga yang diberikan Tsuki-sama padaku. Aku percaya kalau orang hebat tidak melakukan kesalahan.
Aku akan mencoba bereksperimen lebih dengan itu, aku harus segera memahami kekuatan ini.
Ngomong-ngomong, rasanya panas.
Saat siang, rasanya sangat panas.
Saat malam, rasanya sangat dingin.
Itulah yang kurasakan.
Saat tengah hari aku bisa melihat jelas aura panas dengan mataku. Ya seperti itulah sekarang ini.
Saat malam permukaan batu mulai membeku.
Kelihatannya ini tempat yang amat sangat keras bagi manusia, ya.
Sekali lagi aku berterima kasih pada tubuh superku.
Yah, tanpa peduli sekelilingku aku terus maju dengan kecepatan penuh.
Disaat aku sampai di gunung itu pasti nanti ada perubahan situasi, mungkin.
Tolonglah, semoga saja. Kumohon.
Yang bisa kudengar itu hanya suara angin dan langkah kakiku saja!
Ini sudah 3 hari!
Di saat seperti ini harusnya sudah mulai ada event(kejadian) kan?!
“Aku mengerti, pasti karena aku bukan hero lagi~ aku hanya bebek jelek soalnya”.
Aku mulai berbicara ke diriku sendiri. Mungkin ini efek kesepian tapi waktu-waktu saat aku mengatakan apa yang kupikirkan sendiri mulai bertambah. Menyedihkan.
Mataku perlahan mulai kosong. Kupandang jauh di sana. Aku ingin percaya kalau ada populasi manusia di ujung sana.
Aku penasaran apalah yang sedang dilakukan dua hero itu sekarang ya?
Mereka pasti disambut dengan tangan terbuka oleh bangsawan dan pihak kerajaan, dan pastinya makan makanan enak.
Dibandingkan aku.
Aku pandang belakangku. Tidak ada apapun kecuali gurun coklat kemerahan. Jalan yang telah kulalui. Setiap saat aku melihat bayangan aku berlari segera jadi harusnya aku banyak memperpendek jarak. Aku sepertinya tidak akan mengenali lagi tempat aku jatuh.
Pertama aku berencana berjalan tanpa berpikir dan bertemu seseorang atau menemukan persinggahan atau sejenisnya, tapi..
Kelihatannya itu hanya keunggulan yang diberikan untuk karakter utama.
Juga, untuk secara sempurna tanpa apapun sama sekali. Tidak ada satu bayangan oran- ???
“?? ???”
Jadi. Suara itu samar tapi..
Kucoba dengan segala kemampuanku untuk berkonsentrasi mengubah diriku, mungkin ini pertama kalinya dalam hidupku aku menjadi sangat sensitif.
Telingaku tidak membiarkan satu pun suara terlewatkan.
Kuhentikan langkahku.
Kugunakan tangan di telinga dan dengan tenang menutup mataku.
Dimana itu, dari mana aku mendengarnya?
Aku harus konsentrasi. Hanya berkonstrasi.
Seolah tidak ingin melewatkan momen setetes air jatuh.
Aku yakin mendengar sebuah suara, aku harus memastikannya.
“? Se… mat…ak”
“Dari sana!!!!!!”
Aku dengar sekali lagi, itu sudah pasti suatu teriakan.
Kubuka mataku. Seperti ingin mendapatkan gelombang suara itu!
Meski aku masih tetap puasa!
Perutku kosong sekali tapi!
Sejak dari kedatanganku, itulah kekuatan penuh yang kumiliki.
Kupijak tanah dan segera mulai berlari.





0 komentar:
Posting Komentar
Apa kata hatimu nya~?